Pemanasan Menjelang Bulan Ramadhan
Pada dasarnya seluruh waktu, baik siang ataupun malam adalah waktu yang baik untuk beramal shalih. Sebagaimana semua hari dan semua bulan adalah waktu yang tepat untuk beribadah. Namun ada waktu – waktu tertentu dimana manusia diminta lebih memperhatikan amal shalihnya karena keutamaan waktu – waktu tersebut.
Namun ada kalanya manusia agak lalai pada momen tertentu
sebagaimana sabda Rasul Shalallahu
Alihi wa Sallam
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ
أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
artinya,"Itu adalah bulan yang sering
dilalaikan (dilupakan) oleh manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Dan di
bulan itu diangkat amal-amal kepada Rabb semesta alam, maka aku menyukai jika
amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR. An-Nasa'i dan Ahmad)
Imam Ibnu Rajab memberikan penjelasan mendalam
mengenai frasa "yaghfulu an-nas" (manusia melalaikannya). Beliau
menjelaskan bahwa ketika sesuatu diapit oleh dua hal yang besar dan agung
(Rajab dan Ramadhan), maka yang di tengah sering kali luput dari perhatian.
Manusia sibuk beribadah di Rajab, dan sibuk persiapan fisik/belanja di jelang
Ramadhan, sehingga Sya'ban menjadi kosong dari amal.
Justru di sinilah letak keutamaannya. Beribadah
di waktu manusia lain sedang lalai (Ghaflah) memiliki nilai yang sangat tinggi
di sisi Allah. Ini setara dengan orang yang bangun malam saat semua orang
tidur, atau orang yang berzikir di tengah pasar yang riuh.
Poin kedua yang menjadi inti keistimewaan Sya'ban
dalam hadits di atas adalah: "Wa huwa syahrun turfa'u fihil a'mal"
(Bulan di mana amal-amal diangkat). Para ulama membagi waktu pelaporan amal
(Raf'ul A'mal) menjadi tiga periode:
1.
Harian:
Diangkat setiap waktu Subuh dan Ashar (HR. Bukhari & Muslim).
2.
Pekanan: Diangkat setiap hari
Senin dan Kamis (HR. Tirmidzi).
3.
Tahunan: Diangkat secara
rekapitulasi total pada bulan Sya'ban
Sya'ban adalah momen "Tutup Buku"
tahunan bagi setiap manusia. Buku catatan amal kita selama setahun penuh akan
diserahkan ke hadapan Allah ta’ala. Pertanyaannya:
Dalam kondisi apa kita ingin laporan itu ditutup?
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memberikan teladan yang sangat indah. Beliau ingin saat
malaikat pencatat amal menyerahkan laporannya, beliau sedang dalam kondisi berpuasa. Puasa adalah simbol ketundukan, penahan hawa nafsu,
dan keikhlasan. Menutup laporan tahunan dengan puasa diharapkan dapat menjadi
penghapus (Kaffarah) bagi noda-noda dosa yang mungkin tergores di lembaran
hari-hari sebelumnya.
Keutamaan lain dari bulan Sya'ban adalah
fungsinya sebagai pemanasan (Warming Up) menuju Ramadhan. Imam Abu Bakar
Al-Warraq Al-Balkhi membuat analogi pertanian yang masyhur: "Bulan Rajab
adalah bulan menanam, bulan Sya'ban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan
Ramadhan adalah bulan memanen."
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali juga menjelaskan bahwa
kedudukan puasa Sya'ban terhadap puasa Ramadhan ibarat Shalat Sunnah Rawatib
terhadap Shalat Fardhu. Sya'ban adalah Qobliyah-nya Ramadhan. Fungsinya adalah
untuk menambal kekurangan yang mungkin nanti terjadi pada puasa wajib,
sekaligus menyiapkan jiwa agar tidak kaget saat memasuki bulan suci.
Banyak orang yang jatuh sakit atau lemas di
hari-hari pertama Ramadhan karena fisiknya "kaget" dipaksa puasa
tanpa latihan. Mereka yang menghidupkan Sya'ban dengan puasa sunnah dan tilawah
Al-Qur'an, akan memasuki gerbang Ramadhan dengan fisik yang bugar dan rohani
yang siap "lari kencang" sejak malam pertama tarawih.
Oleh karena posisinya yang tepat menjelang
Ramadhan maka Bulan Sya’ban adalah saat yang pas untuk memulai berbagai
persiapan memasuki bulan puasa, diantaranya :
1.
Persiapan
Ruhiiyah
2.
Persiapan
Amaliyyah
3.
Persiapan
Ilmiyah
4.
Persiapan
Maaliyah
5.
Persiapan
Jasadiyah
Allah ta’ala
berfirman Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba
'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn yang artinya: Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Pada ayat ini secara tersirat diketahui bahwa
seruan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk melaksanakan ibadah puasa hanya
diperuntukan bagi orang-orang yang beriman, itu karena hanya orang-orang yang
mempunyai keimanan saja yang akan mampu melaksanakannya.
Ibadah puasa yang tidak didasari keimanan tentu
tidak akan bernilai apapun, sebab iman lah yang menjadi pokok utama dalam
setiap pelaksanaan ibadah kepada Allah. Oleh karena hal yang pertama dan yang
paling utama yang perlu dipersiapkan adalah persiapan ruhiyyah yakni kesadaran
seorang hamba yang melaksanakan suatu perbuatan karena imannya. Ia beramal
semata karena melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana ia meninggalkan sesuatu hal karena larangan
Allah dan rasul-Nya.
Pepatah menyebutkan “Bisa ala biasa” atau
pribahasa jawa menyebut “witing tresno jalaran soko kulino” yang artinya cinta
hadir karena kebiasaan (bersama). Seorang muslim ringan berinfaq dalam jumlah besar karena terbiasa berinfaq di waktu – waktu
sebelumnya. Sebagaimana seseorang bisa istiqomah sholat malam (tarawih),
membaca qur’an dan sebagainya karena terbiasa melakukan di waktu – waktu
sebelum Ramadhan. Maka penting di bulan sya’ban ini
membiasakan melakukan amal sholih sebagai persiapan amaliyyah jelang Bulan
Ramadhan. Sebagaimana teladan Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang banyak berpuasa di Bulan Sya’ban.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari
kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.
Muslim no. 1718)
Hendaknya seorang muslim membekali dirinya dengan
ilmu seputar Ramadhan sebanyak mungkin. Baik itu ilmu sebelum, ketika, ataupun
sesudah Ramadhan. Penting untuk memiliki persiapan ilmiyyah bagi seorang muslim
untuk menguasai ilmu-ilmu tentang tata cara berpuasa maupun ibadah lain yang mengiringi ibadah puasa di Bulan
Ramadhan. Memahami tata cara secara benar sesuai tuntunan agar amal yang
dilaksanakan tidak sia – sia karena tertolak.
Agama ini memiliki sejumlah ibadah yang menuntut
untuk mengeluarkan harta. Misalnya, naik haji, atau ibadah zakat fitrah dan
zakat maal yang khusus berada dalam bulan Ramadhan. Jika tidak memiliki
persiapan maaliyah (harta), maka tidak akan optimal dalam beribadah. Oleh
karena itu sedari sekarang persiapkan alokasi harta untuk beribadah. Sisihkan
setiap rupiah yang dimiliki agar dapat disalurkan selama bulan Ramadhan kepada
yang membutuhkan. Baik itu dalam skema zakat, infaq, ataupun shadaqah.
Ibadah Puasa adalah salah satu ibadah yang
membutuhkan kesiapan fisik yang prima. Oleh karena itu seorang muslim juga
harus memiliki persiapan jasadiyah. Seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga
kebugaran atau kesehatan tubuhnya. Hal yang bisa dilakukan diantaranya menjaga pola makan, menjaga pola tidur, memperbanyak
konsumsi air mineral dan mengurangi minuman manis. Dan yang tidak kalah penting
adalah olahraga setidaknya 20-30 menit perhari. Semua itu dilakukan dengan niat
beribadah kepada Allah, dan tentunya dengan harapan agar selalu berada dalam
kondisi yang prima selama menjalani ibadah di bulan Ramadhan.
Khatimah

Posting Komentar untuk "Pemanasan Menjelang Bulan Ramadhan"