Isra' Mi'raj Menggoda Iman
Salah satu peristiwa mulia yang terjadi di Bulan Rajab adalah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang terjadi pada malam 27 Rajab. Isra’ secara bahasa bermakna “perjalanan” di malam hari, sementara secara istilah “Perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem”. Adapun Mi’raj secara bahasa bermakna “tangga”, dan makna secara istilah “Perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam dari bumi menuju langit ke tujuh hingga sidratul muntaha.”
Allah ta’ala berfirman, ”Sub-ḥānallażī
asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ
linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr” Artinya: Maha Suci
Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil
Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Isra : 1)
Buya Hamka menjelaskan bahwa sungguh Allah ta’ala telah
memperjalankan Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi wa Sallam dari Masjidil Haram ke Masjidl
Aqsa yang jaraknya sekitar 1.500 KM hanya dalam waktu satu malam. Padahal di
masa itu perjalanan menggunakan unta biasanya ditempuh dalam waktu 40 hari.
Allah ta’ala juga memperjalankan Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam ke
langit ke tujuh. Berdasarkan sejumlah nash para ulama sepakat bahwa perjalan itu
dilakukan dengan ruh dan jasad. Bukan hanya ruh saja seperti mimpi, sebagaimana
dituduhkan oleh orang – orang yang tidak beriman. Disebutkan bahwa perjalanan
tersebut menggunakan kendaraan yang disebut “buroq” yang dikisahkan
kecepatannya melebih cahaya. Logikanya, jika perjalanan hanya ruh saja, tentu
tidak perlu menggunakan kendaraan.
Isra’ Mi’raj
adalah peristiwa yang berada di luar jangkauan akal, maka tentu saja hal ini
tidak cukup diterima oleh akal namun oleh iman. Isra Mi’raj mengajarkan
pentingnya keyakinan terhadap hal-hal ghaib. Peristiwa ini menjadi ujian
keimanan bagi umat Islam. Hanya mereka yang benar-benar beriman yang menerima
Isra Mi’raj sebagai mukjizat Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Dalam
konteks ini, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu menegaskan:“Jika aku mengatakan demikian, maka itu
benar. Karena aku telah diperjalankan pada malam hari.” (HR. Bukhari, no.
3674; Muslim, no. 162)
Berkaitan dengan hal ini kita patut
menyimak firman Allah ta’ala yang artinya, “Alif lam mim.
Kitab (Al Quran) ini
tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi merek ayng bertakwa, (yaitu) mereka
yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian
rizki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab
(Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat
petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah menegaskan, bahwa
salah satu dari sifat seorang mukmin adalah bagaimana dia dapat mengimani hal
yang ghaib, yaitu dengan cara membenarkan segala yang telah dikabarkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengenai hakikat
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau hal-hal yang telah
terjadi maupun yang akan terjadi; keadaan akhirat, hari kebangkitan, surga, neraka, shirat, dan hari perhitungan, dan lainnya dari hal-hal
ghaib, termasuk mengimani isra’ dan mi’raj Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa
Sallam.
Banyak kalangan menolak perkara yang gaib dengan
alasan hal tersebut tidak masuk akal atau tidak tercapai indra manusia. Padahal
muslim sejati harus mengimani perkara atau alam gaib sebagaimana firman
Allah Ta’ala dalam
surat Al-Baqarah 1-5 di atas.
Keimanan inilah yang membedakan muslim dengan
kafir. Karena keimanan adalah sebuah pembenaran sejati terhadap Allah dan
Rasul-Nya. Seorang mukmin akan mengimani seluruh yang dikabarkaan oleh Allah
dan diberitakan oleh Rasulullah, baik ia menyaksikannya sendiri ataupun tidak.
KH. Mukti Ali Qusyairi mengutip pendapat Imam
Fakhruddin al-Razi menyatakan bahwa ghaib
adalah ma ghaba ‘an al-hissiy
(sesuatu yang tersembunyi dari indera). Lawan katanya adalah al-syahid, yaitu ma hadhara (sesuatu yang hadir). Imam al-Razi ketika mengartikan ghiyabah yang
seakar kata dengan gaib yaitu segala sesuatu yang tersembunyi dan tertutupi.
Seperti kacang tertutup oleh kulitnya disebut
ghiyabah. Dan segala sesuatu yang gelap tak tertembus indera adalah gaib. Adanya
yang gaib adalah konter narasi bagi mereka yang menganggap yang tak tampak dan
tak tertangkap indera sebagai yang tidak ada. Dan yang gaib pada waktunya akan
tampak nyata, baik di tampakkan di dunia maupun kelak di akhirat.
Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik Nabi
Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam,
tetapi juga perjalanan spiritual yang memberikan hikmah besar bagi umat Islam.
Peristiwa ini mengajarkan keimanan, pengabdian, dan ketundukan sepenuhnya
kepada Allah ta’ala, sekaligus memperkuat hubungan sosial antar
sesama manusia melalui nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah.
Bagi kaum muslimin yang hidup di masa kini,
meyakini peristiwa isra’ mi’raj Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam merupakan ujian keimanan tersendiri. Dulu, di zaman Sahabat, Rasulullah hidup diantara
mereka, sehingga keimanan kepada beliau tidak termasuk mengimani perkara ghaib.
Selain itu, wahyu dan mukjizat turun di depan mata, sementara segenap bukti
kenabian pun bisa disaksikan secara langsung. Bila ditilik dari sisi ini,
sebenarnya lebih mudah mengimani beliau.
Oleh karenanya, beriman kepada beliau di zaman ini,
yakni beriman dengan cara ghaib, bisa menjadi amal yang sangat utama dan nilai
pahalanya bahkan lebih besar dibanding keimanan para Sahabat Rasulullah
sendiri. Mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat adalah satu kesulitan
tersendiri, sedangkan menjaganya agar tetap eksis merupakan kesulitan lainnya.
Sungguh Allah dan Rasulullah memberikan bonus besar
bagi ummat Islam di masa kini. Terdapat sebuah hadits yang disitir oleh Ibnu
Katsir dari Ibnu Marduwaih, bahwa Abu Jum’ah al-Anshari radhiyallahu
‘anhu (seorang Sahabat) datang ke Baitul Maqdis untuk mengerjakan
shalat disana. Setelah rampung, beberapa orang mengiringi beliau keluar dari
masjid, termasuk Raja’ bin Haywah.
Abu Jum’ah kemudian berkata, “Kalian berhak mendapatkan
hadiah. Akan aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang pernah aku dengar
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Orang-orang pun berkata,
“Ceritakanlah (hadits itu), semoga Allah merahmati Anda!” Beliau berkata, “Kami
pernah bersama Rasulullah, dan Mu’adz bin Jabal adalah orang kesepuluh diantara
kami. Kami kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, adakah kaum yang lebih besar
pahalanya dibanding kami? Kami beriman kepadamu dan juga mengikutimu.’
Beliau menjawab, “Apa yang menghalangi kalian untuk
itu, sedangkan utusan Allah ada di tengah-tengah kalian membawakan wahyu dari
langit untuk kalian? Akan tetapi, kaum yang datang sesudah kalian, dimana Kitab
datang kepada mereka diantara dua lembaran (sampul), mereka mengimaninya dan
mengamalkan isinya, mereka itu lebih besar pahalanya dibanding kalian.” Beliau
mengucapkannya dua kali.
Pada hadits lain diceritakan
bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan Abu ‘Ubaidah
bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ada diantara mereka. Ia
bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah
seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama
Anda.” Beliau menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian,
yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku.” (Riwayat Darimi, Ahmad,
dan al-Hakim).
Tidakkah kita bergembira dengan hadits ini? Ya, kita
sangat pantas bergembira karenanya. Bayangkan, kita bisa mendapatkan pahala
melebihi para Sahabat!
Khatimah
Allah menciptakan
manusia untuk beribadah pada-Nya, mengimani-Nya, membenarkan semua berita-Nya,
meski terkadang ada yang sulit tercapai indra atau akal manusia. Di sini faktor
keimanan sangat dibutuhkan agar akal manusia tunduk kepada wahyu Allah ta’ala dan Rasul-Nya.
Keimanan pada yang gaib adalah salah satu pilar iman yang harus dimiliki setiap
mukmin. Keimanan inilah yang membedakan muslim dengan kafir. Karena keimanan
adalah sebuah pembenaran sejati terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Posting Komentar untuk "Isra' Mi'raj Menggoda Iman"