Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CANDA DAN TAWA


Islam diturunkan ke bumi sebagai petunjuk bagi ummat manusia untuk menjalani kehidupan. Berisi aturan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dan sungguh tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala sebagaimana firman Allah ta’ala pada QS Adz Dzariyat 56, sehingga semua aktivitas manusia hendaknya bernilai ibadah. Namun apakah berarti kehidupan seorang muslim selalu serius tanpa canda dan tawa?!  

Sungguh Islam adalah agama pertengahan diantara sikap berlebihan, oleh sebab itu agama Islam adalah agama yang menyentuh fitrah kemanusiaan. Agama ini adalah agama manusiawi yang diturunkan ke bumi melalui perantara Rasul Allah, seorang hamba pilihan di kalangan manusia.

Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah manusia biasa yang memiliki ciri – ciri sebagaimana umumnya manusia sehingga beliau merupakan uswatun hasanah bagi ummat manusia. Perbuatan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam merupakan teladan dalam menjalani kehidupan bagi seluruh ummat manusia. Dan Rasulullah adalah seorang yang lembut, murah senyum dan bisa diajak bercanda.

Dari Sahabat Anas Radhiyallahu anhu, seorang laki-laki meminta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dibawa serta di atas tunggangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan membawamu dengan anak unta.” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah ada unta yang tidak dilahirkan oleh unta betina”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan At Tirmidzi)

Bukan hanya bercanda dengan para sahabat. Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam juga bercanda dengan istrinya. Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.”

Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari. Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan: ”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu. ”suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu.

Kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ”Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)

 

Etika Bercanda

Kehidupan seorang muslim tidaklah semua waktunya dipakai untuk sujud dan ruku, atau tidak semuanya dipakai untuk bermain. Manusia sendiri terdiri atas tiga unsur yakni, akal, jasad, dan ruh yang masing-masing mempunyai kebutuhan.

Kebutuhan akal adalah tadabur, membaca, dan menganalisa. Kebutuhan jasad adalah makan, minum, dan istirahat. Sedangkan kebutuhan ruh adalah amal shaleh.
Apakah anda termasuk orang yang suka bercanda? Ataukah anda adalah orang yang sangat serius dan tidak suka bercanda?

Maka Islam adalah agama pertengahan diantara sikap kelebihan, oleh sebab itu agama Islam adalah agama yang menyentuh fitrah kemanusiaan. Sesungguhnya Allah memberikan sifat tawa dan tangis dalam jiwa manusia, sebagaimana firmannya dalam QS. An-Najm [27]: 43 yang artinya, Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

Allah ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai watak dan perilaku. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang memiliki watak demikian. Karena tertawa dan menangis adalah fitrah manusia, maka bercanda dalam Islam diperbolehkan, bahkan dianjurkan, sepanjang dilakukan dengan benar dan tidak menyimpang dari ajaran agama. Oleh karena itu canda dan humor yang dilakukan hendaknya menghindari hal – hal berikut :

Bercanda tidak boleh mengandung kebohongan, meski bertujuan membuat orang tertawa. Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, “Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celaka dia, celaka dia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim)

Bercanda tidak menyakiti (la dharara wa la dhirara), menjaga batasan dan adab, serta mempererat hubungan sosial (ta’līf al-qulūb). Candaan harus menjauhkan diri dari kekasaran, ejekan, atau mengangkat isu tabu. Canda yang baik mendekatkan hati dan mempersatukan.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.” (QS. al-Hujurat:11).

Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam juga berpesan yang artinya“Cukuplah keburukan bagi seseorang yang menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Bercanda hendaknya tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan gurauan. 

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika kamu tanyakan mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. at-Taubah:65)

Bercanda hendaknya tidak menimbulkan kesedihan dan ketakutan terhadap orang muslim. Sabda Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam artinya, “Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Jangan bergurau untuk urusan yang serius dan jangan tertawa dalam urusan yang seharusnya menangis. Tiap-tiap sesuatu ada tempatnya, tiap-tiap kondisi ada (cara dan macam) perkataannya sendiri.

Allah mencela orang-orang musyrik yang tertawa ketika mendengarkan Al-Qur’an padahal seharusnya mereka menangis, lalu firman-Nya: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya.” (QS. An-Najm : 59-61)

 

Khatimah

Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai sifat berlebihan dan keterlaluan dalam segala hal, beliau bersabda yang artinya, “Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi). 

Sementara sahabat Sa’id bin Ash pernah menasehatkan,“Sederhanalah engkau dalam bergurau, karena berlebihan dalam bergurau itu dapat menghilangkan harga diri dan menyebabkan orang-orang bodoh berani kepadamu, tetapi meninggalkan bergurau akan menjadikan kakunya persahabatan dan sepinya pergaulan.”

Hendaklah gurauan itu dalam batas-batas yang diterima akal, sederhana dan seimbang, dapat diterima oleh fitrah yang sehat, diridhai akal yang lurus dan cocok dengan tata kehidupan masyarakat yang positif dan kreatif. Sungguh Islam adalah agama pertengahan yang menghindari sikap berlebihan.

Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "CANDA DAN TAWA"