Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hikmah Puasa

Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap muslim. Berpuasa di Bulan Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun memiliki tujuan yang lebih besar, yakni membentuk individu muslim yang bertaqwa sebagaimana tersirat pada QS. Al Baqarah 183. Oleh karena itu Puasa Ramadhan memiliki banyak hikmah yang selayaknya memberi dampak secara spiritual maupun sosial.

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni menyebutkan empat hikmah disyariatkannya puasa.
Pertama, puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan untuk melatih manusia tunduk dan patuh terhadap perintah Allah.

Kedua, puasa disyariatkan untuk melatih jiwa dan membuatnya terbiasa dalam menanggung beban kepayahan di jalan Allah ta’ala.

Ketiga, puasa melatih manusia untuk lebih peka terhadap lingkungan, peka dan welas asih terhadap sesama manusia dengan melembutkan hati serta jiwa yang melakukannya.
Keempat, puasa membersihkan jiwa manusia dengan menanamkan pada diri manusia rasa takut dan bahwa mereka selalu diawasi oleh Allah
ta’ala sehingga enggan mendekati hal-hal yang diharamkan Allah sehingga mengantarkan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Imam Al-Ghazali menjelaskan takwa sebagai menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah secara konsisten, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Puasa menguji ketaatan ini karena seseorang bisa saja makan tersembunyi, namun ia memilih tidak melakukannya karena takut kepada Allah. Sebagaimana hadits Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam :

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Ittaqillaaha haitsumaa kunta, wa atbi'is-sayyi'atal-hasanata tamhuhaa, wa khaaliqin-naasa bikhuluqin hasan."

Artinya: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik"(HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987)

Hasil yang diharapkan adalah ketakwaan yang istiqomah (konsisten) di bulan-bulan lainnya, bukan hanya saat Ramadan, menjadikan seseorang memiliki karakter jujur, amanah, dan berakhlak mulia

Sebagaimana perumpamaan metamorfase ulat menjadi kupu – kupu. Saat menjadi ulat merupakan gambaran awal orang – orang yang melakukan ibadah puasa. Ulat nampak menjijikan, bulunya menyebabkan gatal, jalannya pelan tapi rakus memakan dedaunan sehingga dianggap sebagai salah satu hama dalam pertanian. Menggambarkan sifat serakah, menjijikkan, atau penuh dosa.

Selanjutnya Ulat berpuasa dengan menjadi kepompong. Saat fase kepompong yang berjalan sekitar 10-14 hari, praktis ulat berhenti mengonsumsi sumber daya. Padahal saat fase sebelumnya ulat merupakan makhluk yang sangat konsumtif memakan daun. Fase menahan diri, diam, dan berpuasa (tidak makan/minum) untuk memperbaiki diri.

Pun dengan orang yang berpuasa Ramadhan, selama sebulan dilatih menahan diri bukan hanya dari yang haram bahkan menahan diri dari yang halal. Pada siang hari sengaja meninggalkan makan dan minum walau tersedia makanan dan minuman halal. Menahan diri dari perbuatan yang mengurangi pahala puasa, seperti  Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda : Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa, yaitu : berbohong, menggunjing, mengadu orang, bersumpah palsu dan memandang lain jenis dengan syahwat”.

Bahkan di saat berbuka puasa, seorang yang berpuasa juga disarankan untuk tidak berlebihan mengkonsumsi makanan (walau makanan halal) agar tidak menganggu aktivitas ibadah lain di malam bulan ramadhan, baik sholat tarawih, tadarus qur’an dan lainnya. Semua dilakukan karena keimanan pada Allah dan rasul-Nya.

Dengan berpuasa ulat melakukan transformasi diri dari makhluk merayap menjadi makhluk yang bisa terbang. Transformasi diri dari makhluk konsumtif (pemakan daun) menjadi makhluk yang membawa kehidupan dengan cara membantu proses penyerbukan pada tanaman. Dari makhluk yang ruang geraknya sangat terbatas—sebatas merayap di daun—menjadi memiliki daya jelajah sangat luas, bisa terbang. Kemampuan terbang membuat kupu-kupu mampu melakukan penyerbukan atau membantu mengembangkan dan melestarikan kehidupan pihak lain.

Kupu – kupu terlihat indah dan disenangi orang tua ataupun anak - anak, bebas terbang, berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya untuk membantu penyerbukan tanaman. Kupu – kupu hadir dimanapun untuk memberi manfaat, kebalikan dari ulat yang dianggap sebagai hama tanaman.

Pun demikian orang – orang yang puasa, jika puasanya memiliki niat yang hanif semata karena Allah dan dilaksanakan dengan benar, niscaya akan terlahir individu muslim yang lebih baik, seorang muslim yang bertakwa yang memberikan dampak ritual dan sosial. Diantara ganjaran bagi suatu amalan kebaikan adalah bisa melakukan amalan kebaikan lain setelahnya.

Sehingga orang yang berpuasa, semestinya selesai berpuasa ia menjadi orang yang

* meninggalkan syirik
* lebih rajin shalat sunah
* lebih rajin membaca dan mempelajari Al Qur’an
* mendirikan shalat jama’ah di masjid 5 waktu bagi laki-laki
* menutup aurat baik bagi pria maupun wanita muslim
* berhijab syar’i bagi wanita
* meninggalkan riba
* meninggalkan dusta, ghibah, kata-kata kotor
* meninggalkan pacaran
* rajin belajar agama dll

 

Khatimah

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim yang taat dan patuh kepada Allah, laki-laki dan perempuan mukmin dengan iman yang sungguh-sungguh, laki-laki dan perempuan yang tetap mantap dan ikhlas dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar dalam ucapan dan perbuatannya, laki-laki dan perempuan yang sabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta sabar dalam menghadapi segala cobaan, laki-laki dan perempuan yang khusyuk dalam salat, laki-laki dan perempuan yang sering bersedekah untuk memperoleh rida Allah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa wajib maupun sunah, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya dari hal-hal yang Allah haramkan, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah; Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan atas dosa mereka, dan pahala yang besar berupa surga. Mereka kekal di dalamnya.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab – 35).

Maka marilah menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan ini dengan niat untuk taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, semoga Allah ta’ala berkenan menerima amal ibadah dan mengampuni dosa – dosa kita yang telah lalu.

Aamiin.

Posting Komentar untuk "Hikmah Puasa"