Hikmah Puasa
Syekh Muhammad Ali As-Shabuni menyebutkan empat hikmah
disyariatkannya puasa.
Pertama, puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan untuk
melatih manusia tunduk dan patuh terhadap perintah Allah.
Kedua, puasa disyariatkan untuk melatih jiwa dan membuatnya
terbiasa dalam menanggung beban kepayahan di jalan Allah ta’ala.
Ketiga, puasa melatih manusia untuk lebih peka terhadap
lingkungan, peka dan welas asih terhadap sesama manusia dengan melembutkan hati
serta jiwa yang melakukannya.
Keempat, puasa membersihkan jiwa manusia dengan menanamkan pada diri manusia
rasa takut dan bahwa mereka selalu diawasi oleh Allah ta’ala sehingga enggan
mendekati hal-hal yang diharamkan Allah sehingga mengantarkan menjadi
orang-orang yang bertakwa.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Imam Al-Ghazali menjelaskan takwa sebagai
menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah secara konsisten, bahkan
ketika tidak ada yang melihat. Puasa menguji ketaatan ini karena seseorang bisa
saja makan tersembunyi, namun ia memilih tidak melakukannya karena takut kepada
Allah. Sebagaimana hadits Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam :
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Ittaqillaaha haitsumaa kunta, wa atbi'is-sayyi'atal-hasanata
tamhuhaa, wa khaaliqin-naasa bikhuluqin hasan."
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.
Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik"(HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987)
Hasil yang diharapkan adalah ketakwaan yang istiqomah (konsisten)
di bulan-bulan lainnya, bukan hanya saat Ramadan, menjadikan seseorang memiliki
karakter jujur, amanah, dan berakhlak mulia
Sebagaimana perumpamaan
metamorfase ulat menjadi kupu – kupu. Saat menjadi ulat merupakan gambaran awal
orang – orang yang melakukan ibadah puasa. Ulat nampak menjijikan, bulunya
menyebabkan gatal, jalannya pelan tapi rakus memakan dedaunan sehingga dianggap
sebagai salah satu hama dalam pertanian. Menggambarkan
sifat serakah, menjijikkan, atau penuh dosa.
Selanjutnya Ulat
berpuasa dengan menjadi kepompong. Saat fase kepompong yang berjalan sekitar
10-14 hari, praktis ulat berhenti mengonsumsi sumber daya. Padahal saat fase
sebelumnya ulat merupakan makhluk yang sangat konsumtif memakan daun. Fase menahan diri, diam, dan berpuasa (tidak
makan/minum) untuk memperbaiki diri.
Pun dengan orang yang berpuasa Ramadhan, selama sebulan dilatih menahan diri bukan hanya dari yang haram
bahkan menahan diri dari yang halal. Pada siang hari sengaja meninggalkan makan
dan minum walau tersedia makanan dan minuman halal. Menahan diri dari perbuatan
yang mengurangi pahala puasa, seperti Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam bersabda : Ada lima perbuatan yang menghapus
pahala puasa, yaitu : berbohong, menggunjing, mengadu orang, bersumpah palsu
dan memandang lain jenis dengan syahwat”.
Bahkan di saat berbuka puasa, seorang yang berpuasa juga disarankan
untuk tidak berlebihan mengkonsumsi makanan (walau makanan halal) agar tidak
menganggu aktivitas ibadah lain di malam bulan ramadhan, baik sholat tarawih,
tadarus qur’an dan lainnya. Semua dilakukan karena keimanan pada Allah dan
rasul-Nya.
Dengan
berpuasa ulat melakukan transformasi diri dari makhluk merayap menjadi makhluk
yang bisa terbang. Transformasi diri dari makhluk konsumtif (pemakan daun)
menjadi makhluk yang membawa kehidupan dengan cara membantu proses penyerbukan
pada tanaman. Dari makhluk yang ruang geraknya sangat terbatas—sebatas merayap
di daun—menjadi memiliki daya jelajah sangat luas, bisa terbang. Kemampuan
terbang membuat kupu-kupu mampu melakukan penyerbukan atau membantu
mengembangkan dan melestarikan kehidupan pihak lain.
Kupu – kupu
terlihat indah dan disenangi orang tua ataupun anak - anak, bebas terbang,
berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya untuk membantu penyerbukan tanaman.
Kupu – kupu hadir dimanapun untuk memberi manfaat, kebalikan dari ulat yang
dianggap sebagai hama tanaman.
Pun demikian
orang – orang yang puasa, jika puasanya memiliki niat yang hanif semata karena
Allah dan dilaksanakan dengan benar, niscaya akan terlahir individu muslim yang
lebih baik, seorang muslim yang bertakwa yang memberikan dampak ritual dan
sosial. Diantara ganjaran bagi suatu amalan
kebaikan adalah bisa melakukan amalan kebaikan lain setelahnya.
Sehingga
orang yang berpuasa, semestinya selesai berpuasa ia menjadi orang yang
* meninggalkan syirik
* lebih rajin shalat sunah
* lebih rajin membaca dan mempelajari Al Qur’an
* mendirikan shalat jama’ah di masjid 5 waktu bagi laki-laki
* menutup aurat baik bagi pria maupun wanita muslim
* berhijab syar’i bagi wanita
* meninggalkan riba
* meninggalkan dusta, ghibah, kata-kata kotor
* meninggalkan pacaran
* rajin belajar agama dll
Khatimah
Sungguh,
laki-laki dan perempuan muslim yang taat dan patuh kepada Allah, laki-laki dan
perempuan mukmin dengan iman yang sungguh-sungguh, laki-laki dan perempuan yang
tetap mantap dan ikhlas dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar
dalam ucapan dan perbuatannya, laki-laki dan perempuan yang sabar dalam
menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta sabar dalam menghadapi
segala cobaan, laki-laki dan perempuan yang khusyuk dalam salat, laki-laki dan
perempuan yang sering bersedekah untuk memperoleh rida Allah, laki-laki dan
perempuan yang berpuasa wajib maupun sunah, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya dari hal-hal yang Allah haramkan, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut nama Allah; Allah telah menyediakan untuk mereka
ampunan atas dosa mereka, dan pahala yang besar berupa surga. Mereka kekal di
dalamnya.
Sebagaimana
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan
mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan
perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan
perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan
perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya,
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS.
Al-Ahzab – 35).
Maka marilah menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan ini dengan niat untuk taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, semoga Allah ta’ala berkenan menerima amal ibadah dan mengampuni dosa – dosa kita yang telah lalu.
Aamiin.

Posting Komentar untuk "Hikmah Puasa"