Peran Muslimah Menjaga Identitas Islam
Wanita muslim memiliki banyak
tantangan. Pada satu sisi mereka harus menjaga marwah diri, di sisi lain para
muslimah juga memiliki tantangan dalam perannya sebagai ibu dan istri. Ada istilah Jawa, “konco wingking”, atau A man behind the scene.
Figur berpengaruh dalam keberhasilan hidup setiap tokoh, sebagaimana pepatah
"Dibalik Pria Sukses Ada Wanita Hebat Dibelakangnya"
Firman Allah ta’ala
di dalam surah At-Taubah, ayat 71 yang artinya “Dan orang-orang yang mukmin pria dan wanita, sebagian daripada mereka
adalah penolong bagi sehagian yang lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang munkar, mereka mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan
ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha
Bijaksana.”
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita
pebisnis sukses yang cerdas dalam mengelola uang dan keluarga. Sosok ibu yang
bijaksana serta menjadi pendukung utama dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam,
menenangkan beliau pada saat wahyu pertama turun.
Aisyah binti Abu Bakar yang juga merupakan istri
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
adalah seorang guru dan penyebar ilmu, pakar dalam ilmu fikih, tafsir, dan
pengobatan. Beliau juga dikenal yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Fatimah Az-Zahra, salah satu putri Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
adalah sosok istri dan ibu yang tangguh dan zuhud. Fatimah mendampingi Ali bin
Abi Thalib dengan kesabaran dan ketulusan meskipun hidup dalam kesederhanaan.
Fatimah adalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah dan anak,
tetapi tetap dekat dengan ibadah dan ilmu. Oleh karena itu, beliau berhasil
mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam.
Asma’ binti Abu Bakar juga merupakan sosok pejuang
wanita yang pintar dan berani membantu pada saat Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
hijrah dengan strategi yang cerdik. Asma juga merupakan ibu yang cerdas yang
berhasil mendidik anaknya, Abdulah bin Zubair menjadi pemimpin hebat.
Diantara tokoh dakwah
Islam di negeri ini juga ada kisah Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah.
Beliau menaruh perhatian besar kepada para buruh perempuan di unit usaha batik
Kauman. Hal itu direalisasikan dengan memberikan pengajaran pada buruh
perempuan yang dilakukan melalui pengajian agama yang diadakan sehabis mereka
bekerja yakni ketika lepas waktu Maghrib.
Kaum buruh perempuan
itu diajari pengetahuan agama, membaca, dan menulis. Terhadap gadis-gadis,
Nyai Ahmad Dahlan secara khusus menyediakan sebuah asrama (internaat). Asrama
putri menjadi media pendidikan efektif untuk mengendapkan nilai-nilai kepada
generasi muda. Kelak murid-murid bimbingan Siti Wlidah menjadi pionir
Aisyiyah. (https://aisyiyah.or.id/nyai-ahmad-dahlan-siti-walidah)
Di sisi lain juga ada
Nyai Nafiqoh sebagai istri KH. Hasyim Asy'ari. Pernikahannya dengan KH
Hasyim Asy'ari melahirkan 10 orang anak, termasuk tokoh hebat seperti KH Abdul
Wahid Hasyim, yang menjadi Menteri Agama RI. Nyai Nafiqoh mengelola kebutuhan
rumah tangga dan pesantren dengan penuh dedikasi. Setiap hari, beliau bangun
sejak subuh untuk menyiapkan makanan bagi santri dan pengajar di Pesantren Tebuireng. Beliau juga mengurus kebun dan sawah keluarga,
yang hasilnya digunakan untuk kebutuhan pesantren dan dijual ke warung.
Di sisi lain Nyai
Nafiqoh juga dikenal dermawan. Meski hidup di tengah kesulitan ekonomi akibat
penjajahan Belanda, ia sering bersedekah untuk memenuhi kebutuhan para guru dan
santri. Pendekatan spiritualnya, seperti membaca Asma’ul Husna dan wiridan di
sepertiga malam, menjadi teladan dalam mendidik anak - anaknya agar menjadi
generasi saleh. (https://mediaindonesia.com)
Tantangan Generasi Era Global
Era globalisasi yang ditandai dengan
kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi menjadi tantangan terhadap
Muslimah yang semakin kompleks. Globalisasi tidak hanya membawa perkembangan
positif tetapi juga pengaruh budaya yang bertentangan dengan prinsip Islam. Di
tengah arus global yang serba bebas, Muslimah dihadapkan pada pilihan untuk
mempertahankan nilai-nilai Islam atau larut dalam tren sekulerisasi.
Globalisasi menawarkan berbagai
kemudahan, tetapi juga membawa pengaruh negatif seperti gaya hidup hedonis,
liberalisme, dan feminisme sekuler. Nilai-nilai ini seringkali bertentangan
dengan prinsip Islam. Oleh karena itu, Muslimah harus bijak dalam memanfaatkan
teknologi dan informasi agar tidak terpengaruh oleh ideologi yang dapat merusak
iman dan identitasnya.
Dibutuhkan muslimah yang
berkepribadian Islam
(Syakhshiyyah Islamiyyah ) yang kokoh sehingga
dapat menjaga marwah diri serta tetap berperan sebagai istri sekaligus ibu yang
hebat di tengah Era Global yang kental dengan sekulerisme.
Syakhshiyyah Islamiyyah atau
Kepribadian Islam terbagi dalam dua komponen yakni pola pikir (aqliyyah)
dan pola sikap (nafsiyyah).
Pada komponen pola pikir, seseorang
harus memahami aqidah Islam dan menjadikannya sebagai landasan berpikir. Seseorang
dinyatakan memiliki kepribadian Islam jika ia memahami dan mengimani seluruh
perkara aqidah Islam. Pada aspek syariat, seseorang dinyatakan memiliki
kepribadian Islam jika ia memahami syariat Islam.
Semua muslim yang
menyatakan beriman pada Allah dan Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam pada dasarnya memiliki kepribadian Islam,
namun memiliki kekuatan yang berbeda – beda tergantung pada keterikatan
pemikiran dan keluasan ilmunya terhadap aqidah dan syariat Islam, baik syariat
ibadah maupun muamalah. Pola pikir Islam ini akan semakin kuat jika ia
senantiasa menjaga keimanannya sembari menuntut ilmu untuk memperluas wawasan
keilmuan ke-Islamannya.
Sementara
pada komponen Pola Sikap, seseorang harus menjadikan syariat Islam sebagai
tolok ukur perbuatan. Sosok yang memiliki kecenderungan menjalankan Islam dalam keseharian, baik pada aspek ibadah maupun
muamalah. Melaksanakan ibadah sesuai ketentuan syariat (fiqh). Mengkonsumsi
makanan dan minuman hanya yang halal saja. Menutup aurat dengan sempurna yakni
dengan mengenakan jilbab dan khimar (kerudung) bagi muslimah. Bermuamalah
secara Islami serta terlibat dalam dakwah bagi tegaknya kembali izzul Islam wa
al-muslimin. Pola sikap Islami akan semakin kokoh jika ia istiqomah beramal
shalih dalam kesehariannya.
Khatimah
Wanita berperan besar dalam perjuangan Islam dan peradaban
bangsa. Bahkan, wanita dikatakan sebagai tonggak peradaban karena bisa mengubah
suatu peradaban hanya dengan tangannya. Namun, seiring perkembangan zaman,
eksistensi dan peran wanita mulai mengalami pergeseran di berbagai situasi
sosial. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari para orientalis dan aktivis
emansipasi wanita atau yang dikenal dengan gerakan feminisme.
Begitu banyak tantangan para muslimah. Untuk itu, wahai para
muslimah, hendaklah memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan rajin
menuntut ilmu serta mengamalkannya sesuai nilai-nilai Islam agar bisa turut
berperan dalam perjuangan. Sebab, Islam dapat memengaruhi dan membawa kebaikan
untuk perubahan yang lebih baik dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga
maupun sosial.
Wallahu a’lam bi ashowab

Posting Komentar untuk "Peran Muslimah Menjaga Identitas Islam "