Ramadhan Bulan Taqwa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS.
Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjuk dengan jelas bahwa tujuan melaksanakan kewajiban
berpuasa di Bulan Ramadhan adalah untuk membentuk pribadi Muslim yang bertaqwa.
Imam Al-Jurjani mendefinisikan, “Taqwa yaitu
menjaga diri dari siksa Allah dengan mentaati-Nya. Yakni menjaga diri dari
pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau
meninggalkannya”.
Prof. Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag., menjelaskan
bahwa pengertian taqwa adalah Imtitsālu awāmirillāhi wajtinābu nawāhīhi
(Melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya).
Menurut Ali bin Abi Thalib, taqwa adalah Al-khaufu minal jalīl,
wal `amalu bit tanzīl, wal qanā`atu bil qalīl, wal-isti`dādu li-yaumir rahīl
(Takut kepada Zat Yang Maha Agung, mengerjakan apa yang diperintahkan, menerima
dari yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat).
Sedangkan menurut Ibn Mas`ud, taqwa adalah Ay-yuthā`a falā
ya`shī, wa yadzkura falā yansā, wa ay-yasykura falā yakfur (Menaati
perintah Allah dan jangan melanggar, mengingat Allah dan jangan lalai,
mensyukuri nikmat Allah dan jangan mengingkari).
Ketika Umar bin Khatab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang
hakikat taqwa, Ubay balik bertanya kepada Umar, “Apakah engkau pernah menempuh
jalan berduri?” Umar menjawab, “Pernah.” Ubay kembali bertanya, “Apa yang
engkau lakukan?” Umar menjawab, “syamartu wa ijtahadtu (Aku berusaha keras dan
bersungguh-sungguh [agar tak terkena duri]).” Ubay bin Ka’ab berkata. “Itulah taqwa.”
Al-Qur’an menyebut sejumlah indikator seseorang disebut bertaqwa berdasar
surah Ali `Imran ayat 134-135, yakni :
1. Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā-i wadh-dharrā-i
(menginfakkan harta baik dalam keadaan lapang maupun sempit),
2. wal-kādzimīnal
ghaidza (menahan amanah),
3. wal-`āfīna
`anin nāsi (memaafkan kesalahan orang lain [kepadanya]),
4. wallāhu
yuhibbul muhsinīn (berbuat baik [kepada orang yang bersalah kepadanya]),
5. walladzīna
idzā fa`alū fākhisyatan au dzalamū anfusahum dzakarullāha fas taghfarū
lidzunūbihim (dan apabila berbuat keji atau menzalimi diri sendiri, segera
mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya).
Sedangkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 3-4, indikator
orang bertaqwa adalah
1. Alladzīna
yu’minūna bil ghaibi wa yuqīmūnas shalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūna (beriman
kepada yang gaib, menunaikan shalat, menginfakkan sebagian hartanya),
2. walladzīna
yu’minūna bimā unzila ilaika wamā unzila min qablika, wa bil ākhiratihum
yūqinūn (beriman kepada kitab Allah al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya,
dan beriman kepada hari akhir).
Berdasar sejumlah kriteria tersebut, taqwa mengandung dua dimensi,
yakni dimensi vertikal dan horizontal (hablun minallāhi wa hablun minan nāsi).
Dalam dimensi vertikal, orang yang bertaqwa (muttaqīn) adalah
sosok yang memiliki keimanan yang mantap kepada Allah ta’ala dan ciptaan-Nya yang ghaib (malaikat, hari akhir, surga,
neraka, dan lainnya), beriman kepada kitab suci-Nya, istiqamah melaksanakan shalat dan kewajiban vertikal lainnya,
mensyukuri nikmat Allah dan bersabar atas musibah, rajin beristighfar atas
segala kesalahan, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Sedangkan secara horizontal, muttaqīn adalah sosok yang mampu
bergaul baik dengan orang lain, memaafkan kesalahan orang lain bahkan membalas
kesalahan orang lain dengan kebaikan, mampu menahan amarah, dan suka
menginfakkan sebagian hartanya kepada yang membutuhkan.
Sungguh Taqwa itu adanya di dada, di hati setiap muslim. Dari
dada, ia turun ke amal perbuatan, ke gaya hidup. Taqwa yang hendak dituju oleh
semua ibadah adalah taqwa sebagai gaya hidup, bukan sekedar untuk dipetuahkan. Taqwa
sebagai gaya hidup artinya menjadikan petunjuk Allah sebagai rujukan kehidupan
dalam segala detilnya.
Ini soal pilihan, karena manusia diberi akal dan
wahyu, maka ia diberi kesempatan memilih. Apakah memilih jalan / petunjuk / metode
Allah ataukah memilih petunjuk / jalan / metode yang datang dari selain Allah. Puasa mengajarkan kita untuk kembali secara
total kepada pilihan yang pertama. Pilihan menjadi hamba Allah. Pilihan
untuk menjadikan kehidupan sama dengan ibadah kepada Allah dalam maknanya yang
paripurna.
Melalui ibadah Puasa Ramadhan dapat membentuk karakter sosial empati
sesama manusia. Bulan Ramadhan juga mengajarkan untuk lebih peduli terhadap
sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Ketika merasakan lapar dan
dahaga, niscaya menjadi lebih peka terhadap kesulitan yang dialami oleh
orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Puasa mengingatkan kaum muslimin untuk
lebih banyak bersedekah, membantu mereka yang membutuhkan, dan mempererat tali
persaudaraan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang
artinya :”Barangsiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka
baginya pahala yang sama dengan orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala
orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Hadist ini menunjukkan betapa
pentingnya berbagi dengan sesama, terutama di bulan Ramadhan.
Memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, membantu orang yang
membutuhkan atau memberikan sedekah adalah amal yang sangat mulia dan bernilai
pahala yang besar di sisi Allah ta’ala. Puasa
mengajarkan kita untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga untuk
memperhatikan orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung.
Jadi puasa akan membantu membentuk
pribadi yang taat dan penuh pengharapan. Puasa juga mengajarkan untuk taat
kepada Allah dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Dalam menjalankan ibadah
puasa, harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, seperti mulai berpuasa
dari fajar hingga maghrib, menjaga lisan dan perbuatan agar tidak membatalkan
puasa. Semua aturan ini mengajarkan untuk taat dan patuh pada perintah Allah,
serta menjalankan hidup sesuai dengan petunjuk-Nya.
Allah berfirman dalam Surah
Al-A’raf ayat 56,
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ
خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, padahal
Allah telah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini mengingatkan bahwa sebagai seorang Muslim harus selalu
berusaha untuk memperbaiki diri dan menjaga kehidupan di dunia ini agar tetap
sesuai dengan kehendak Allah. Puasa menjadi sarana untuk mencapai tujuan
tersebut, karena dalam menjalankan puasa, tidak hanya menahan diri dari makan
dan minum, tetapi juga dari segala bentuk kerusakan, baik yang bersifat fisik,
emosional, maupun sosial.
Khatimah
Puasa Ramadhan bertujuan untuk mencapai pribadi yang bertaqwa. Dengan
puasa di Bulan Ramadhan kaum muslimin berlatih membentuk ketaatan total pada
Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak hanya taat dalam urusan
ibadah ritual tapi juga secara sosial.
Bulan Ramadhan adalah bulan untuk membina kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah), yakni
seorang muslim yang memiliki kecenderungan berpikir dalam perspektif islam dan
kecenderungan berbuat sesuai tuntunan agamanya, baik dalam hal ibadah ritual
maupun pergaulan sosial. Bulan Ramadhan adalah momen berlatih intensif untuk
hidup dalam kehidupan Islam.
Semoga kita dapat beribadah dengan optimal di Bulan Ramadhan tahun
ini dan lulus sebagai orang yang bertaqwa dan diampuni dosa – dosa yang telah
lalu.

Posting Komentar untuk "Ramadhan Bulan Taqwa"