Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SYA'BAN BULAN RASULULLAH

Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Sebuah bulan yang memiliki sejumlah keistimewaan sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, Rajab adalan Bulan Allah, Sya’ban adalah Bulanku, dan Ramadhan adalah Bulan Ummatku.” (HR. Ahmad dan An Nasai)

Meskipun tidak termasuk dalam Asyhurul Hurum (empat bulan mulia: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), Sya’ban tetap memiliki keistimewaan tersendiri dibanding bulan lainnya, diantaranya bulan ini diaku oleh Rasullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai bulannya.

Selain itu Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menyebut Sya'ban sebagai bulan Shalawat. Bulan tersebut memiliki sederet keistimewaan, salah satunya menjadi bulan diturunkannya ayat perintah shalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam. Ayat yang dimaksud adalah Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56 sebagai berikut :


اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦  

 

Artinya, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzab: 56).

Memaknai Bulan Sya’ban sebagai bulan Rasul sekaligus bulan bershalawat, maka sungguh hal ini bisa menjadi momen bagi kaum muslimin untuk mengingat kembali seruan agar senantiasa meneladani atau ber ittiba’ pada Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Ittiba’ artinya mengikuti dan mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan meninggalkan apa-apa yang ditinggalkan oleh beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS. Al-Ahzab ayat 23).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah timbangan terbesar yang menjadi tolok ukur perbuatan dan perkataan seseorang, maka tidak akan bernilai sampai perkataan dan perbuatannya ditimbang dengan timbangan itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah :

Apakah Kita salah seorang yang mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Apakah Kita salah satu dari mereka yang menjawab panggilan tersebut?

Apakah Kita salah satu dari mereka yang menanggapi peringatannya dan melindungi dirinya dari api Neraka?

Maka hendaknya manusia memperhatikan setiap perkataan dan tindakannya, apakah telah sesuai dengan tuntunan yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam

Ittiba' Rasul adalah mengikuti, meneladani, dan menaati ajaran, sunah, serta perilaku Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam seluruh aspek kehidupan. Ini mencakup ketaatan lahiriah dan batiniah, mencintai Rasul, serta mengamalkan Al-Quran dan sunnah. Ittiba' merupakan bukti cinta kepada Allah dan syarat diterimanya amal ibadah. 

Sungguh mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab kebahagiaan, sebagaimana meninggalkannya adalah penyebab kesengsaraan. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kita untuk mentaati-Nya secara mutlak:

 

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 

Artinya: “Dan apa yang diberikan oleh Rasulullah maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” (QS. Al-Hasyr ayat 7)

 

Bukan hanya sebab kebahagiaan, mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan kunci menuju surga Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Sahih Al-Bukhari dimana Rasulullah bersabda: "Seluruh umatku akan masuk surga kecuali mereka yang menolak. Sahabat bertanya: Siapa yang menolak, ya Rasulullah? beliau bersabda: Siapa pun yang menaatiku akan masuk surga, dan siapa pun yang tidak menaatiku, maka dialah yang menolak.”

Berpegang teguh pada sunnah dan mengikutinya juga adalah perlindungan dari kesesatan dan keselamatan dari godaan syaitan yang terkutuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara yang jika kalian menaatinya niscaya kalian tidak akan sesat setelah aku, Kitab Allah dan Sunnahku”. (HR. Al-Hakim)

Ittiba’ Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam adalah mengamalkan segala ajaran yang beliau bawa, baik yang ada di dalam Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah Ta’ala kepada beliau, maupun berupa perintah maupun larangan, dan juga mengamalkan sunnah yang suci. Tidak hanya meniru penampilan (seperti jenggot atau pakaian), tetapi lebih mendalam pada penerapan nilai-nilai, karakter, perilaku, dan perjuangan dakwah Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya. Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya.” (HR. Ahmad)

Di antara keutamaan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya ialah bahwasanya mengikuti beliau adalah salah satu jalan meraih mahabbatullah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

Artinya: “Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran ayat 31).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” Nabi Muhammad meraih tangan Umar suatu hari dan Umar berkata: Wahai Rasulullah sungguh, engkau lebih aku cintai dari segalanya kecuali diriku sendiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih dicintai olehmu daripada dirimu sendiri”. Umar lantas berkata kepadanya: Sekarang, demi Allah, engkau (wahai Rasulullah) lebih dicintai olehku daripada diriku sendiri. Rasulullah kemudian bersabda: Sekarang, wahai Umar (barulah engkau merealisasikan cinta sesungguhnya).

Jika mengikuti Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam menjadi sebab kebaikan maka sungguh menentang petunjuk Nabi Muhammad adalah kesesatan besar. Bayangkan jika seorang pasien tidak setuju dengan dokternya dalam meresepkan obat, atau jika seseorang mengemudikan mobilnya dan tidak menaati rambu lalu lintas dan mengikuti jalan yang berbahaya, maka orang tersebut adalah orang yang salah jalan dan bersiap menghadapi masalah.

Pun demikian dengan orang yang tidak sependapat dengan Rasulullah, padahal kepadanya wahyu diturunkan dan bukan kepada orang lain, beliau telah melihat surga dan neraka, dan berbicara dengan Allah ta’ala dalam peristiwa Mi’raj ke langit ketujuh.

 

Khatimah

Ittiba’ Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam adalah mengamalkan segala ajaran yang beliau bawa. Adapun cara untuk ittiba' (mengikuti) Rasulullah diantarnya : Pertama, meneladani sunah Rasulullah baik ucapan dan perbuatannya serta menaati apa yg diperintahkan dan menjauhi apa yang Rasul larang.

Kedua, bersholawat dan mengagungkan Rasulullah dalam setiap keadaan. Ketiga, mencintai Al-Quran dengan senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan. Keempat, lemah lembut terhadap umat Muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir yang memusuhi serta orang-orang yang menyelisihi Sunnah beliau.

Semoga kita senantiasa dapat ittiba Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam rangkaian aktivitas harian dan diakui oleh Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai ummatnya di yaumil hisab kelak.

Posting Komentar untuk "SYA'BAN BULAN RASULULLAH"