Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

HUDA LINNAS

Salah satu kemuliaan bulan Ramadhan adalah bulan saat diturunkannya Al-Qur’an. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr yang artinya Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul qadar. (QS Al Qadr : 1)

Namun yang perlu diketahui, Al-Qur’an tidak hanya diturunkan pada malam lailatul qadar saja, tetapi ada tiga fase kitab suci umat Islam ini diturunkan.
Fase pertama, turunnya Al-Qur’an, diturunkan ke Lauhul Mahfudz secara keseluruhan.
Fase kedua, Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan malam lailatul qadar.

Fase ketiga, ini merupakan fase terakhir dari turunnya Al-Qur’an. Pada tahap ini, Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam. Ayat-ayat yang turun berangsur sesuai dengan konteks peristiwa saat itu.

Kalam Allah pertama yang turun kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam inilah yang kemudian dikenal dengan malam Nuzul Al-Quran atau 17 Ramadan. Hal ini terjadi ketika Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam pertama kali bertemu Jibril Alaihissalam di Jabal Nur di gua Hira di mana malaikat memintanya untuk membaca sehingga mengungkapkan lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Mengenai diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, Allah ta’ala berfirman:  Syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān yang artinya, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al-Baqarah : 185).

Terkait ayat di atas, para mufassir sepakat bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, tepatnya pada malam lailatul qadar. Pada malam itu, Al-Qur’an diturunkan secara utuh (30 juz) dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah.

Sementara Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menjelaskan tentang QS. Al Baqarah : 185, bahwa Bulan puasa diistimewakan dengan turunnya Al-Qur’an di dalamnya pada malam lailatul qadar, atau dengan turunnya Al-Qur’an dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil.

Berdasarkan penjelasan di atas, Lailatul Qadar mengacu pada turunnya Al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah, sedangkan Nuzul Al-Quran mengacu pada turunnya wahyu pertama dari turunnya Al-Quran. Keduanya merupakan malam berkah yang terjadi di bulan Ramadhan.

Sebenarnya bukan Al-Qur’an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Tetapi juga kitab-kitab umat terdahulu diturunkan pada bulan suci ini.  Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal delapan belas Ramadhan. Dan Al Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan. (HR. Ahmad)

Melalui hadits di atas bisa mengambil poin penting, bahwa Allah memuliakan bulan Ramadhan bukan saja dengan diturunkannya Al-Qur’an, tetapi juga semua kitab-kitab umat terdahulu. Hanya saja, jika kitab-kitab yang lain diturunkan sekaligus kepada para Nabi, Al-Qur’an tidak demikian. Tetapi melalui berbagai tahap dan juga berangsur sesuai konteks tertentu.

Pada QS. Al Baqarah 185 di atas juga menjelaskan bahwa ada tiga fungsi utama Al-Qur’an, yaitu sebagai petunjuk bagi umat manusia (hudalinnas), penjelasan atas kitab-kitab sebelumnya (bayyinat minal huda), serta sebagai pembeda antara yang benar dan salah (Al-Furqan).

Sementara KH Abdul Syukur, Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung, menyampaikan bahwa Pokok-pokok ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an meliputi :

Pertama, ajaran pokok akidah (keimanan), yaitu keyakinan kepada Allah Yang Maha Segalanya, baik sifat atau zatnya. Keimanan memiliki enam cakupan yang diformulasikan menjadi Rukun Iman yaitu iman kepada Allah, malaikat, rasul, hari akhir, qada dan qadar.

Kedua, ajaran pokok ibadah, yaitu manusia sebagai hamba Allah supaya melaksanakan penghambaan diri hanya kepada  Allah ta’ala.  Lalu bagaimana cara melaksanakan segala sesuatu yang baik (ma’ruf, ihsan, dan khair). Artinya, penghambaan (ibadah) yaitu diperintahkan oleh-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Ketiga, ajaran pokok akhlak, yaitu budi pekerti atau karakter yang baik, suatu tindakan yang menciptakan hubungan baik dan seimbang dalam bermasyarakat.

Keempat, ajaran pokok hukum, yaitu ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah ta’ala, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Keserasian dan harmoni hidup untuk mendapatkan hidup yang aman, tenteram,  bahagia, dan selamat. 

Jadi secara umum Fungsi Al-Qur’an bagi umat Islam sangat jelas sebagai sumber hukum utama dan pedoman hidup di dunia dan menyinari serta menolong kehidupan umat Islam di akhirat. 

Kehidupan ini adalah rangkaian pilihan, dan setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih, dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas pilihannya tersebut. Manusia dalam memilih jalan hidupnya, konsekuensinya harus ditanggung sendiri. Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia, hendak memilih jalan kebaikan atau keburukan, semua ada konsekuensinya. Bagi yang memilih jalan kebaikan, Insya Allah disediakan surga, sedangkan yang memilih jalan keburukan, sudah ada tempatnya di neraka.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,” Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. “ (Terj. QS. Al Kahfi : 29)

 

Khatimah

Diantara keistimewaan Al-Qur'an bagi pembacanya mendapatkan pahala. Tiap huruf yang dibacanya mendapatkan sepuluh pahala atau kebaikan. Al-Qur’an sebagai mukjizat, dan mengandung dimensi ilmu pengetahuan sehingga bagi pembacanya mendapatkan pengetahuan bahkan petunjuk Allah ta’ala. Maka dari itu, jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia (hudalinnas) dalam menjalani kehidupan sehari – hari, baik dalam perkara ibadah maupun muamalah, urusan hubungan hablum min Allah maupun hablum min an naas, agar senantiasa mendapat kebaikan dalam urusan dunia maupun akhirat kelak.

Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "HUDA LINNAS"