Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PERSATUAN DALAM PERBEDAAN

Islam merupakan petunjuk bagi manusia menuju jalan yang lurus, benar dan sesuai dengan tuntunan kitab suci Al Qur’an yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam. Jika dikaitkan dengan konteks keberagaman yang ada di negeri  ini, bahkan di dunia. Maka Islam sangat menjunjung keberagaman, karena keberagaman merupakan sunnatullah.

Oleh karena itu Islam mengajarkan bagaimana menyikapi keberagaman ini agar tetap bersatu dalam perbedaan (unity in diversity). Allah ta’ala berfirman pada QS. Al Hujurat : 13

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr

Yang artinya

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam Tafsir Al-Wajiz karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah, dijelaskan bahwa, Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari satu asal keluarga yaitu Adam dan Hawa. Maka Janganlah kalian saling membanggakan nasab di antara kalian. Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling berkenalan. Kami menciptakan kalian untuk saling berkenalan, tidak untuk saling membanggakan nasab.

Syu’ub maknanya adalah umat besar seperti Bani Rabi’ah, Bani Mudhar dan Bani Khuzaimah tergabung dari banyak suku. Al-Qabail itu adalah kelompok selain Syu’ub seperti Bani Bakr yang merupakan bagian dari bangsa Rabi’ah dan Bani Tamim yang merupakan bagian dari bangsa Mudhar.  Sesungguhnya yang paling utama dan paling tinggi posisinya di sisi Allah adalah ketakwaan kalian kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu dan Maha Memberitahu tantang urursan-urusan yang tersembunyi dan rahasia.

Ayat ini diturunkan saat terjadi ejekan terhadap Bilal yang menaiki Ka’bah pada hari penaklukkan Mekah untuk mengumandangkan adzan, kemudian Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam memanggil dan menegur mereka (yang mengejek) agar tidak membanggakan nasab.

Sementara pada Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) disebutkan bahwa Allah ta’ala berfirman seraya memberitahukan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari satu jiwa dan darinya Allah menciptakan istrinya, yaitu nabi Adam dan Hawa, kemudian Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa.

Dan bangsa itu lebih umum daripada suku. Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “Asy-Syu'ub adalah suku-suku non-Arab. Sedangkan yang dimaksud dengan kabilah-kabilah adalah untuk bangsa Arab, sebagaimana Bani Israil disebut “Al-Asbath”. Semua manusia jika ditinjau dari unsur kejadiannya yaitu tanah liat sampai dengan nabi Adam dan Hawa itu sama saja. Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu setelah melarang menggunjing dan menghina orang lain Allah ta’ala berfirman mengingatkan mereka, bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama: (Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal) yaitu agar mereka saling mengenal di antara mereka, masing-masing dinisbatkan kepada kabilahnya.

QS. Al Hujurat 13 itu menunjukan bahwa Allah yang telah menciptakan keberagaman. Dengan adanya keberagaman ini, bukan berarti menganggap suku, Bangsa, kelompok, madzab, ataupun keberagaman yang lain jenisnya menganggap kelompoknyalah yang lebih utama. Keberagaman sudah ada sejak zaman para sahabat, dan Islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwwah dalam menyikapi keberagaman tersebut.

Istilah Ukhuwwah sendiri dapat ditemukan pada QS. Al-Hujurat 10 :  Innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la'allakum tur-ḥamụn Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ketegasan Islam memberikan gambaran betapa perhatiannya Islam terhadap permasalahan keberagaman, dengan mengutamakan persaudaraan, keharmonisan, dan perdamaian. Beberapa hadist memberikan perumpamaan bahwa sesama muslim diibaratkan satu tubuh, sebagaimana hadits Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, “perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu tubuh anggota sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR.Muslim)

Perumpamaan yang lain diibaratkan bangunan, sebagaimana disampaikan dalam sabda Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain” (HR. Muslim)

Maka hendaknya kaum muslimin menjadikan keragaman tersebut sebagai kompetisi positif dalam kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah : 148, Wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt, aina mā takụnụ ya`ti bikumullāhu jamī’ā, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

Artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Ayat di atas mengarahkan kaum muslimin untuk saling berlomba berbuat ketaatan, beramal baik dimanapun tempat di bumi, karena Allah akan tetap mengumpulkan manusia pada hari kiamat untuk mendapat balasan.

 

Khatimah

Keberagaman dalam Islam bukanlah fenomena baru. Sejak masa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, perbedaan pendapat dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam sudah menjadi hal yang lumrah. Munculnya berbagai mazhab dalam Islam adalah bukti nyata dari dinamika pemikiran umat Islam dalam merespons tantangan zaman. Namun, keberagaman ini seringkali disalah artikan sebagai perpecahan, padahal sejatinya keberagaman adalah anugerah yang dapat memperkaya khazanah keislaman.

Konsep keberagaman dalam Islam memiliki akar yang kuat dalam Al-Qur'an dan hadits. Allah ta’ala menciptakan manusia dengan beragam suku, bangsa, warna kulit, bahasa, dan budaya. Perbedaan ini bukan menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai, melainkan menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai. Islam mengajarkan bahwa semua muslim adalah bersaudara, terlepas dari perbedaan suku, bangsa, dan mazhab.

Keberagaman ini adalah salah satu bahan untuk berlomba – lomba dalam kebaikan (fastabiqqul khairat). Berkompetisi tanpa harus berselisih. Bertanding namun tetap bisa bersanding karena setiap muslim adalah saudara berdasarkan ikatan aqidah Islam. 

Wallahu ‘alam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "PERSATUAN DALAM PERBEDAAN"