Keutamaan Hari Tasyrik
Puji syukur kehadirat Allah ta'ala yang melimpahkan rahmat-Nya sehingga kaum muslimin bisa menemui Hari Raya Idul Adha dan hari – hari setelahnya yang biasa disebut sebagai Hari Tasyrik. Tiga hari setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah.
Ketiga hari ini memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam dan termasuk dalam waktu yang masih disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban. Di tanggal-tanggal ini pula, umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji sedang berada di Mina untuk melempar jumrah. Sementara bagi yang tidak berangkat haji merayakan Idul Adha di tempatnya masing-masing.
Pada ketiga hari ini, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam melarang umatnya untuk berpuasa. Hikmah
dari pelarangan berpuasa ini adalah karena masih dibolehkannya untuk
menyembelih hewan kurban sampai 13 Dzulhijjah, kemudian bersilaturahmi dan
bersama-sama merayakan dengan makan dan minum.
Imam Bukhari mengutip hadits keutamaan Hari Tasyrik sebagai waktu
istimewa untuk ibadah yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, artinya: “Dari
sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu
anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama
daripadanya di hari-hari ini,” (HR Bukhari).
Pada hadits lain disebutkan pula,
إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ
ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
“Sesungguhnya hari yang paling
mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr
(hari tasyriq).” HR. Abu Daud no. 1765
Hari tasyriq
disebut yaumul
qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina.
Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang
berikutnya dan berikutnya lagi.
Terkait ketentuan ibadah pada hari-hari Tasyrik, umat Islam
tidak diperbolehkan berpuasa dan justru dianjurkan untuk memperbanyak zikir. Allah
ta’ala berfirman pada QS. Al Baqarah 203, Ważkurullāha fī
ayyāmim ma'dụdāt yang artinya Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah
dalam beberapa hari yang berbilang
Yang dimaksud hari yang berbilang adalah
hari-hari setelah hari Idul Adha (hari an nahr) yaitu hari-hari tasyriq. Inilah pendapat Ibnu
‘Umar dan pendapat kebanyakan ulama. Adapun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan
bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan
tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq.
Sebagaimana disebutkan dalam surat Al
Baqarah ayat 203 di atas (yang artinya), “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang
terbilang.”, maka hal Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di
hari-hari tasyriq. Abu Hanifah
menganjurkan membaca takbir setelah melaksanakan shalat pada hari-hari Tasyrik.
Adapun Ibnu Hajar Al-Asqalani menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak bacaan
tahlil, tahmid, dan takbir.
Tuntunan ibadah lain adalah memperbanyak berdoa. Pada
sebuah kitab yang berjudul Lathoif Al-Ma’arif (Agenda Ibadah Muslim dalam
Setahun) yang ditulis oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, dijelaskan mengenai sebuah
riwayat dari Kinanah Al Quraisy, bahwa ia mendengar Abu Musa Al As’ari radhiyallahu anhu berkhutbah di hari Idul Adha dan berkata: “Pada tiga hari
setelah Hari Idul Adha, itulah yang disebut Allah sebagai ayyamul ma’dudat
(hari-hari yang terbilang), Doa yang dipanjatkan di hari-hari tersebut tidak
akan tertolak, maka berdoalah kamu semua dengan berharap kepada-Nya.”
Dalam konteks
yang sama, QS. Al-Baqarah ayat 200 – 202 juga menyatakan sebagai berikut: Fa
iżā qaḍaitum manasikakum fażkurullāha każikrikum ābā`akum au asyadda żikrā, fa
minan-nāsi may yaqụlu rabbanā ātinā fid-dun-yā wa mā lahụ fil-ākhirati min
khalāq (200) Wa min-hum may yaqụlu rabbanā ātinā fid-dun-yā ḥasanataw wa
fil-ākhirati ḥasanataw wa qinā 'ażāban-nār (201) Ulā`ika lahum naṣībum mimmā
kasabụ, wallāhu sarī'ul-ḥisāb (202)
Yang artinya,
Apabila kamu
telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah,
sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau
(bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang
yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan
tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (200)
Dan di antara
mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
(201)
Mereka itulah
orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah
sangat cepat perhitungan-Nya. (202)
Maka, bisa
diambil kesimpulan bahwa salah satu doa yang paling disarankan adalah membaca
doa sapu jagat, yaitu yang tersebut di QS. Al-Baqarah ayat 201:
Rabbana
aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa adzab-annar. Artinya, “Ya
Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
lindungilah kami dari azab neraka.” Menurut Anas bin Malik, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, doa tersebut juga
adalah doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.
Khatimah
Hari-hari
Tasyrik merupakan momen istimewa untuk beribadah, sehingga bentuk ibadah apapun
yang dilakukan pada waktu-waktu tersebut akan memperoleh keutamaan yang lebih
besar. Ibnu Hajar Al-Asqalani juga mengutip pandangan Imam Ibn Jamrah yang
berpendapat bahwa Islam tidak menetapkan amalan atau zikir tertentu secara
khusus pada hari-hari Tasyrik. Menurutnya, setiap amal yang dikerjakan pada
hari-hari tersebut memiliki keutamaan lebih tinggi dibandingkan dengan amalan
serupa yang dilakukan di luar hari Tasyrik.
Meskipun
tidak ada amalan tertentu yang diwajibkan, para ulama sepakat bahwa
memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan tahlil sangat dianjurkan. Bahkan,
setiap bentuk amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari ini memiliki nilai
lebih di sisi Allah.
Pada hari tasyriq
terkumpul berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat
nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik
hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur.
Oleh karena
itu, sudah semestinya umat Islam memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat
spiritualitas, memperbanyak ibadah, dan merefleksikan makna pengorbanan serta
ketundukan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Hari-hari
Tasyrik bukan sekadar kelanjutan dari perayaan Idul Adha, tetapi merupakan
momen ibadah yang sarat makna dan keutamaan.
Hari – hari istiqomah ibadah, baik ibadah mahdoh maupun ghairu
mahdoh, ibadah hablum min Allah ataupun Hablum min
an naas sebagai bentuk ketaatan pada Allah ta’ala dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Keutamaan Hari Tasyrik"