Semangat Beramal dengan Aspek Kerohanian
Tren hijrah dalam beberapa dasawarsa belakangan ini menjadi fenomena yang menarik sekaligus menggembirakan. Menurut data dari Mualaf Center Indonesia (MCI) yang dikutip oleh Republika menyebutkan terdapat 58.500 mualaf baru di Indonesia dalam kurun waktu 2003 hingga 2019. https://khazanah.republika.co.id/berita/pmm42z313/tren-hijrah-pengaruhi-jumlah-mualaf-di-indonesia.
Sementara itu pasca tragedi 911, jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat justru semakin banyak. Ada rasa penasaran sebagian kalangan terhadap Islam yang mendorong mereka mempelajari Islam. Dalam rentang waktu tahun 2000 hingga 2010, disebutkan jumlah muslim di Amerika Serikat justru berkembang dari angka 1 juta menjadi 2,6 juta jiwa. Bahkan disebutkan penjualan Al Qur’an terjemah meningkat pesat, menunjukkan pertumbuhan dakwah Islam di negeri paman sam itu.
Fenomena menarik lain juga nampak
seiring dangan banyaknya mualaf tersebut. Kaum muslim yang baru hijrah dari
agama non Islam
tersebut nampak lebih semangat dalam menjalankan ibadahnya. Bahkan di negeri
ini sejumlah penggiat dakwah yang eksis di dunia dakwah adalah mantan non
muslim, sebagiannya bahkan adalah pernah menjadi rohaniwan di agama
terdahulu. Semangat ibadah dan berdakwah
para mualaf ini pada sebagaian fakta nampak lebih bersemangat dibandingkan orang
Islam
“asli”.
Jika diamati memang mayoritas muslim
di negeri ini mendapatkan keislamannya berkat “warisan” dari orang tuanya.
Qadarallah mereka dilahirkan dari keluarga muslim sehingga otomatis memeluk
iman Islam. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, bahkan merupakan kabar baik.
Fakta ini menunjukkan bahwa para orang tua telah berhasil mendidik putra –
putrinya sehingga istiqomah meneruskan iman dan Islam ini.
Dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak
dilahirkan dalam fitrahnya. Kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai
Yahudi, Nashrani atau Majusi..” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Hadits
populer di atas menjelaskan bahwa setiap orang terlahir dalam keadaan fitrah,
dimana makna fitrah adalah seorang manusia beriman pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diterangkan dalam hadits lain yang
diriwayatkan oleh Muslim, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda:
“Allah berfirman: “Aku
telah menciptakan para hamba-Ku dalam fitrahnya yang lurus, lalu mereka tergoda
oleh syaitan sehingga menyimpang dari agama mereka. Maka Aku haramkan kepada
mereka apa-apa yang Kuhalalkan kepada mereka. Lalu syaitan memerintahkan mereka
untuk menyekutukan diri-Ku denga sesuatu tanpa ilmu yang Ku-berikan kepadanya.”
Fitrahnya manusia
adalah beriman pada Allah ta’ala, maka orang
tuanyalah yang akan menyebabkan mereka
menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Namun
kita patut bersyukur bahwa mayoritas muslim di negeri ini istiqomah meneruskan
iman Islam yang diwarisi
dari orang tuanya. Sungguh ini menjadi bukti bahwa para orang tua muslim di
negeri ini telah bertanggung jawab atas pendidikan agama putra – putrinya.
Seiring dengan
perubahan waktu dan tumbuhnya anak – anak muslim menjadi orang dewasa yang
telah baligh, maka seyogyanya
mereka terus belajar untuk memperdalam wawasan pengetahuan dan tsaqofah
keislamannya. Memahami tentang masalah aqidah (keimanan) dan syariah (fiqh) Islam dengan baik untuk diamalkan dalam aktivitas harian.
Pada masalah syariat
(fiqh), seorang muslim awam dapat bertaklid (mengikuti) pendapat para ulama.
Mereka beramal ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang disampaikan para
ulama. Beribadah sesuai pendapat mazhab Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali atau
ulama – ulama lain yang meneruskan sanad keilmuan para imam mazhab.
Adapun untuk masalah
keimanan (aqidah) maka setiap individu hendaknya tidak bertauhid dengan taklid.
Pada tahap awal memang sekedar mewarisi iman Islam dari orang tua, namun pada
masa baligh selayaknya mereka harus mempelajari Islam dengan sungguh – sungguh sehingga menerima Islam dengan utuh. Hal
inilah yang membedakan antara muslim mualaf dan muslim “lawas”. Para mualaf
memperoleh keimanannya dari pengalaman pribadi, proses berpikir, kontemplasi
mempelajari Islam dengan sungguh –
sungguh hingga akhirnya mendapatkan hidayah iman Islam.
Jalan keimanan yang diraih melalui proses berpikir ini melahirkan aspek kerohanian yang kuat pada diri para mualaf. Hal inilah yang menjadi
bahan bakar amal ibadah yang semangat. Muslim “asli-pun” akan memiliki semangat
yang serupa bahkan lebih jika mereka juga memiliki aspek kerohanian (ruhiyyah)
dalam setiap perbuatannya.
Ruhiyyah atau Idrak sillah billah
(إدراك صلة بالله)
adalah kesadaran dan keyakinan spiritual yang mendalam akan adanya hubungan (sillah)
batin yang erat antara seorang hamba dengan Allah ta’ala. Aspek
kerohanian ini dimiliki jika perbuatan tersebut dilandasi kesadaran hubungan
dengan Allah ta’ala, artinya beramal dalam rangka menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Sungguh berbeda
hasil yang didapatkan seorang yang berbuat dengan aspek kerohanian dan tanpa
aspek kerohanian. Contoh sederhana, seseorang menjalankan sholat bisa jadi
karena ikut – ikutan seperti anak kecil yang belum baligh. Ia bersemangat
sholat di masjid karena mengikuti teman – teman yang sholat di masjid. Saat
temanya tidak ke masjid, ia pun malas sholat ke masjid. Atau seorang hamba yang
melaksanakan sholat karena sekedar rutinitas belaka, maka ia nampak rajin
melaksanakan sholat namun hatinya “garing”, akibatnya ia tidak menikmati
sholatnya bahkan mudah futur atau malas sholat tepat waktu.
Berbeda dengan
seorang muslim yang melaksanakan sholat dengan aspek kerohanian. Ia meniatkan
sholatnya dalam rangka memenuhi seruan Allah ta’al di QS An Nisaa 103 yang artinya “Maka
dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah
fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Atau seseorang
melaksanakan sholat karena ia ingat sholat lima waktu dapat menghapus dosa
sebagaimana hadits Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu dan
Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan
menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”
(HR. Muslim no. 233).
Maka sungguh seorang
muslim yang berbuat dengan kesadaran hubungannya dengan sang Khaliq, beramal
dengan aspek kerohanian niscaya akan memiliki semangat ibadah yg kuat, tidak
peduli ia mualaf ataupun muslim lawas.
Sungguh benar
Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang telah
mengingatkan ummat Islam dalam hadits dari Amirul
Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya setiap amalan
tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.
Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan
Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang
dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan
Muslim) (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada
niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan.
Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah, berbeda
dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia. Maka sungguh
suatu amal perbuatan akan “hidup” dan bersemangat jika dilakukan dengan
melibatkan aspek kerohanian (ruhiyyah).

Posting Komentar untuk "Semangat Beramal dengan Aspek Kerohanian"