BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Libur telah tiba. Siswa-siswi sekolah di negeri ini begitu gembira saat memasuki masa libur sekolah di akhir tahun ajaran. Mereka akan menikmati masa libur selama kurang lebih tiga pekan.
Namun sesungguhnya belajar bukan hanya di sekolah. Pembelajaran di sekolah adalah pembelajaran formal. Dan seorang muslim menuntut ilmu tidak hanya ilmu formal di sekolah, namun belajar dapat dilakukan dimana saja, terlebih seorang muslim seharusnya memahami bahwa menuntut ilmu adalah aktivitas ibadah yang dilakukan sepanjang hidup.
Sebuah pribahasa Arab menyatakan Uthlubil 'ilma minal mahdi ilal lahdi (اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى
اللَّحْدِ) yang artinya "Tuntutlah ilmu sejak dari
buaian hingga liang lahat"
Kiranya hal tersebut dapat menggambarkan tentang kewajiban menuntut
ilmu sepanjang hayat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala pada Surah Al-Mujadalah ayat 11:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ
فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ
دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai orang-orang
beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ta’ala akan mengangkat
derajat orang orang yang menuntut ilmu beberapa kali lebih tinggi dari orang
orang yang tidak menuntut ilmu. Keterangan ini menjadi tanda bahwa ilmu yang
membuat manusia lebih mulia, tidak melalui harta atau nasabnya.
Ilmu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Pengetahuan memungkinkan manusia untuk memahami, mengeksplorasi, dan mengatasi
berbagai tantangan yang dihadapi dalam kehidupan. Kegiatan sehari-hari menjadi
bermakna apabila didasarkan ilmu. Kita akan mendapatkan ganjaran yang sebanding
dari Allah atas apa yang kita perbuat. Sehingga peranan ilmu memang penting
dalam kehidupan manusia. Kita sebaiknya selalu belajar dan menjadi pendengar
ilmu dari orang ahli ilmu.
Sebuah qaul dari Imam Syafii
menyebutkan
مَنْ
أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa yang menginginkan
kebahagian dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagian
akhirat, tuntulah ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah
ilmu.”
lmu pengetahuan memiliki peran
besar dalam kehidupan seseorang, karena dengan ilmu pengetahuan maka manusia
dapat bermanfaat untuk keluarga dan sekitarnya. Ilmu pengetahuan juga menjadi
jalan pedoman untuk menuntun kita ke arah benar dan dapat mengantarkan kita
pada kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat dan menjadi cahaya yang
menyinari kehidupan manusia sehingga mereka tidak kehilangan arah.
Manusia dapat membedakan antara
benar dan salah melalui ilmu pengetahuan, sehingga bisa memahami kewajibannya
sebagai manusia yang bertaqwa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Maka Allah ta’ala akan mengangkat derajat
manusia di dunia dan di akhirat nanti.
Islam tidak akan tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. Ilmu
adalah fondasi utama yang menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan umatnya.
Tanpa ilmu, seseorang tidak dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam
dengan benar. Ilmu memberikan pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an dan
Hadits, serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena
itu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, karena hanya dengan
ilmu, Islam dapat dipahami, diamalkan, dan ditegakkan sebagai agama yang
benar-benar membawa keselamatan di sisi Allah ta’ala.
Untuk mendapatkan berkah ilmu, apapun yang
dipelajari harus niat untuk
diamalkan dan dengan begitu ilmu menjadi berkah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
إِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَّةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
(رواه : مسلم)
Artinya : Jika Seseorang meninggal akan terputus segala amalannya kecuali 3
perkara, Yaitu : Shadaqoh Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak sholih yang
selalu mendo’akanya (HR. Muslim)
Hadits mengenai tiga amal jariyah yang terus mengalir pahalanya setelah
kematian, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang dimaksud di sini
adalah ilmu syar’i, yakni pengetahuan tentang agama Islam yang bersumber dari
Al-Quran dan Sunnah. Kebermanfaatan ilmu ini tidak hanya dirasakan oleh
individu yang mempelajarinya, tetapi juga oleh orang lain yang menjadi
penerimanya. Ilmu syar’i yang diajarkan kepada orang lain dan kemudian
diamalkan secara terus-menerus akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus
mengalir bagi yang mengajarkannya.
Dengan demikian, menuntut dan mengajarkan ilmu agama merupakan investasi
akhirat yang sangat menguntungkan. Seorang muslim yang memiliki ilmu agama yang
mendalam dan mau membagikannya kepada orang lain, akan mendapatkan pahala yang
besar baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, ilmu agama juga menjadi
bekal yang sangat penting untuk menghadapi kehidupan di dunia dan akhirat.
Dengan ilmu agama, seseorang akan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang
batil, sehingga ia dapat menjalani hidup dengan penuh petunjuk dan bimbingan
dari Allah ta’ala.
Khatimah
Ilmu pengetahuan berperan penting bagi manusia.
Manusia tidak akan hidup lebih baik tanpa memiliki ilmu. Oleh karena itu, mari
kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Imam
syafi’i dalam kalimat bijaknya menyampaikan akibat orang yang tidak menuntut
ilmu : Ketahuilah, bahwa seseorang dianggap hidup sebenar-benarnya,
jika ia berilmu dan bertaqwa, Dia tidak dianggap hidup apabila tidak memiliki
keduanya (Ilmu dan Taqwa) pada dirinya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengatakan;
قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
“Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
bersabda,”Jadilah engkau (1) orang berilmu, atau (2) orang yang menuntut ilmu,
atau (3) orang yang mau mendengarkan ilmu, atau (4) orang yang menyukai ilmu.
Dan (5) janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi).
Maka hendaknya seorang
muslim menjadi salah satu dari yang empat, yakni orang yang berilmu (alim),
atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang
yang menyukai ilmu pengetahuan.
Ilmu merupakan kunci
dan pusat segala kebaikan. Ilmu adalah sarana untuk menunaikan apa yang Allah
wajibkan atas kita. Keimanan dan amal seseorang dianggap tidak sempurna kecuali
dia memiliki ilmu. Apabila manusia memiliki ilmu, maka Allah akan disembah,
dengan ilmu maka hak Allah pasti ditunaikan, dan dengannya pula agama Islam
tersebar.
Kebutuhan manusia akan
ilmu lebih besar jika dibanding dengan kebutuhannya pada makanan dan minuman,
hal demikian karena keberlanjutan urusan agama dan duniawi berdasarkan pada
ilmu. Imam Ahmad yang mengatakan bahwa manusia lebih memerlukan ilmu daripada
makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dalam satu hari hanya
dibutuhkan dua sampai tiga kali, sedangkan ilmu pengetahuan diperlukan
sepanjang waktu.

Posting Komentar untuk "BELAJAR SEPANJANG HAYAT"