Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menuntut Ilmu Ibadah Yang Mulia

Islam memandang ilmu sebagai nikmat yang besar, karena dengan ilmu seseorang dapat mengenal Allah, memperbaiki amal, dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Libur telah usai. Siswa – siswa di seluruh penjuru negeri kembali masuk sekolah untuk menuntut ilmu sesuai jenjang pendidikannya. Menuntut ilmu adalah salah satu amal yang paling mulia dalam Islam. Terdapat banyak ayat dan sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan serta kedudukannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang mendekatkan manusia kepada Allah ta’ala.

Islam memandang ilmu sebagai nikmat yang besar, karena dengan ilmu seseorang dapat mengenal Allah, memperbaiki amal, dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menuntut ilmu tidak hanya diperintahkan bagi umat Islam, tetapi juga dipandang sebagai salah satu jalan menuju keberkahan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Dalam perjalanan menuntut ilmu, seseorang juga mendapatkan pahala yang besar, karena setiap langkah yang diambil dalam usaha tersebut dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah ta’ala berfirman yang artinya,”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat ini adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam, yang menunjukkan betapa pentingnya membaca dan belajar sebagai sarana untuk mengenal Allah dan memahami ciptaan-Nya. Ayat ini juga menegaskan bahwa ilmu harus selalu diiringi dengan kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam firman-Nya yang lain disebutkan yang artinya, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki ilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Hal ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk mendapatkan manfaat duniawi, tetapi juga sarana untuk mencapai kemuliaan di akhirat.

Untuk memudahkan proses menuntut ilmu ada baiknya memahami proses berpikir untuk mendapatkan suatu pemahaman. Konsep Thariqul Tafkir (Metode Berpikir) adalah proses memindahkan penginderaan terhadap suatu fakta ke dalam otak yang disertai dengan informasi sebelumnya, untuk menafsirkan dan menyimpulkan fakta tersebut.

Proses ini membutuhkan empat komponen utama agar bisa terjadi:

1.                   Fakta (Realitas): Objek atau kejadian yang nyata dan dapat diindera.

2.                   Panca Indera: Alat yang sehat untuk menyerap fakta tersebut.

3.                   Otak: Organ fisik yang sehat untuk menerima rangsangan.

4.                   Informasi Sebelumnya (Ma'lumat Tsabiqah): Pengetahuan, pengalaman, atau konsep dasar yang sudah dimiliki seseorang sebelumnya untuk menafsirkan fakta tersebut.

Keberadaan fakta empiris memberi peran penting untuk membentuk pemahaman seseorang. Tanpa realitas yang dapat diindera, seorang komunikan akan memiliki hambatan memahami maksud dari komunikator. Bahkan bisa jadi komunikan (penerima info) salah memahami maksud dari komunikator (pemberi info). Maka sangat penting dalam proses komunikasi seorang komunikator menunjukkan fakta atau menggambarkan fakta sehingga dapat tergambar dalam benak agar dapat dicerna dengan baik oleh komunikan.

Panca indera tentu sangat membantu identifikasi fakta. Secara umum manusia mengidentifikasi fakta dengan indera penglihatannya, namun sebagian orang mengidentifikasi dengan indera yang lain.

Otak adalah anugerah Allah ta’ala kepada manusia yang membuatnya menjadi makhluq yang mulia. Organ ini bertugas memproses fakta dan mengaitkannya dengan informasi yang masuk. Otak menggunakan informasi tersebut untuk menafsirkan, menilai, dan menyimpulkan fakta yang baru diindra, yang kemudian menghasilkan pemahaman atau keputusan.

Untuk memahami hal ini kita dapat mengambil hikmah pada kisah dialog Nabi Adam Alaihissalam di surga pada QS. Al Baqarah 30 – 33 yang artinya :

30. Dan ketika Tuhanmu berkata kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku adalah Pencipta khalifah di Bumi. Para Malaikat menjawab; “Apakah Engkau akan menciptakan makhluk di Bumi yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan mengalirkan darah? Dan kami semua para Malaikat senantiasa mensucikan dengan memuji-Mu dan mensucikan Engkau. Tuhan pun berfirman; Sesungguhnya Aku lebih mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui.

31. Dan Ia mengajarkan semua nama kepada Nabi Adam Alaihissalam, kemudian Ia menampakan benda-benda itu di hadapan para Malaikat, Maka Ia berfirman: “Wahai para Malaikat ceritakanlah kepada-Ku, nama-nama dari setiap benda itu, kalau kalian semua itu orang-orang yang benar.

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan tentang ayat ini bahwa, Allah ta’ala mengajarkan Adam nama-nama semua hal dan semua makhluk, kemudian Allah bertanya kepada para malaikat tentang nama-nama yang diajarkan kepada Adam tersebut (melalui nurani mereka yang berakal), dengan berfirman: “Kabarkanlah kepadaKu tentang nama-nama itu, jika kalian adalah orang-orang yang beranggapan bahwa pendapat kalian tentang kekhalifahan itu lebih benar dibanding dari selain kalian”. Kemudian mereka menyerah.

32. Mereka menjawab; “Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami terkecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.

33. Ia berfirman: Wahai Adam ceritakanlah kepada mereka akan nama-nama dari benda-benda itu. Maka di saat Nabi Adam menceritakan kepada mereka akan nama-nama benda, Allah berfirman; Apakah Aku belum berkata kepada kalian; “Sesungguhnya Aku Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang samar di Langit dan di Bumi, dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan atau apa yang kalian sembunyikan.”

Ada benang merah yang bisa diambil dari kisah di atas, salah satunya berkaitan “ketidakmampuan” malaikat menyebutkan  nama-nama dari setiap benda itu, namun mereka tidak mampu dan berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami terkecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.

Sebaliknya ketika Nabi Adam Alaihissalam diminta melakukan hal yang sama, beliau dapat melakukannya dengan baik. Hal ini karena Allah ta’ala mengajarkan semua nama kepada Nabi Adam Alaihissalam sebagaimana diceritakan pada QS. Al Baqarah : 31. Nabi Adam memiliki ilmu sehingga mampu menyebutkan nama – nama dari setiap benda karena beliau telah mendapatkan informasi langsung dari Allah ta’ala. Sebaliknya Malaikat mengetahui benda – benda tersebut namun tidak mengetahui namanya karena tidak mendapatkan informasi awal.

Dari sini kita dapat memahami pentingnya menuntut ilmu, hadir di majelis – majelis ilmu, karena hal tersebut dapat memberikan informasi atau pengetahuan yang melahirkan pemahaman. Maklumat (informasi) yang diterima dalam majelis ilmu melengkapi proses berpikir seseorang, tidak sekedar mengidentifikasi fakta, namun memilki pemahaman tertentu.

Hasil dari proses berpikir (pemikiran seseorang) sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kebenaran dari ma'lumat sabiqah (informasi awal/standar penilaian) yang dimilikinya. Jika informasi awal yang digunakan benar dan logis, maka kesimpulan yang dihasilkan akan sahih. Hadir di majelis ilmu akan membantu seseorang untuk memahami kebenaran yang betul – betul benar dalam perspektif Islam. Bukan kebenaran yang kebetulan tanpa ilmu.

Untuk menjadi penyemangat dalam menuntut ilmu, ada pesan dari Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda yang artinya,“Haddatsanaa Sa’id bin ‘Ufair ia berkata: haddatsanaa Ibnu Wahhab dari Yunus dari Ibnu Syihaab ia berkata, Humaid bin Abdur Rokhman berkata, aku mendengar Muawiyah berkhutbah dan berkata: ‘aku mendengar Nabi  bersabda’: “Barangsiapa yang Allah  kehendaki kebaikan, maka akan dipahamkan agamanya. Aku hanyalah pembagi, sedangkan Allah  yang memberi. Senantiasa umat ini tegak diatas perintah Allah , tidak akan membahayakan orang-orang yang menyelisihi mereka, sampai datang perintah Allah.” (HR. Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa Orang yang difahamkan agama adalah orang yang diberi kebaikan. Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Menuntut Ilmu Ibadah Yang Mulia"