Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam Kepada Ummatnya



Bulan Rabiul Awwal begitu semarak dengan berbagai pengajian di pejuru negeri untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ummat Islam bergembira menyambut kelahiran Nabi mulia yang telah mengeluarkan ummat manusia dari masa jahiliyah ke jalan yang hanif, penuh dengan Rahmat Allah ta’ala.

Shalawat bergema dimana – mana. Pada bagian shalawat tersebut terdapat satu ayat yang selalu terselip, yakni firman Allah ta’ala :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Yang artinya : “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah : 128)

Allah Azza wajalla menyematkan kepada beliau sifat (رَءُوفٌ رَحِيمٌ), yaitu sifat penuh cinta dan penuh kasih sayang, maka pujian yang mana lagi yang lebih besar dan lebih mulia dibandingkan pujian yang datang dari Allah Azza wajalla?

Ayat ini bukan sekadar firman yang indah, melainkan lukisan cinta yang hidup. Ayat ini menjadi penggambaran tentang sosok Rasul yang luar biasa, seorang manusia yang hatinya larut dalam penderitaan umat, yang setiap detiknya menginginkan keselamatan mereka, dan yang diberi anugerah dua sifat agung Allah sendiri—ra’ūf (sangat penyantun) dan raḥīm (sangat penyayang). 

Ungkapan “azīzun ʿalayhi mā ʿanittum” dalam ayat tersebut menunjukkan betapa berat hati beliau menyaksikan umatnya menderita. KH Puji Raharjo Soekarno
mengutip Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa, penderitaan, kesesatan, bahkan ancaman neraka bagi umatnya, membuat hati Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam penuh resah. Padahal beliau adalah sosok yang sudah dijamin surga, tetapi masih meneteskan air mata demi keselamatan ummatnya.

Bahkan ketika berperang, yang beliau inginkan bukan kebinasaan musuh, melainkan agar mereka beriman. Andai saja mereka menerima kebenaran, itu jauh lebih membahagiakan bagi beliau daripada kemenangan di medan perang. Air mata beliau dalam doa menjadi saksi: tangisan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk ummatnya.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca doa:

اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي فَبَكَى، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ – وَرَبُّكَ أَعْلَمُ – فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَسَأَلَهُ، فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَا قَالَ، وَهُوَ أَعْلَمُ، فَقَالَ اللَّهُ: يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ

“Ya Allah, umatku, umatku,” lalu beliau menangis. Maka Allah ta’ala berfirman, ‘Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – dan Tuhanmu lebih mengetahui – lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya menangis?’ Jibril pun datang dan bertanya, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan. Maka Allah ta’ala berfirman, ‘Wahai Jibril, katakan kepadanya: Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan tidak akan menyusahkanmu.’ (HR. Muslim no. 202)

Kata ḥarīṣun ʿalaykum dalam ayat tersebut seakan melukiskan betapa besar kerinduan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada umat manusia. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam begitu mendambakan agar mereka yang masih jauh dari cahaya Islam dapat menemukan hidayah, dan mereka yang sudah beriman tetap teguh dalam keimanan tanpa goyah oleh godaan dunia.  

Setiap langkah dakwah beliau, setiap seruan tauhid, dan setiap nasihat yang beliau sampaikan, semuanya lahir dari satu keinginan: agar manusia tidak tersesat, tidak terjerumus ke jurang kehancuran, melainkan merasakan manisnya iman dan keselamatan abadi di sisi Allah ta’ala

Kerinduan ini tidak pernah padam, bahkan ketika beliau dicaci, ditolak, atau dilukai, cinta dan harapan beliau pada keselamatan umatnya justru semakin besar. Oleh sebab itu, doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa dipenuhi dengan permohonan ampunan, kebaikan, dan rahmat untuk umatnya. Tidak hanya untuk mereka yang beriman di zamannya, tetapi juga untuk kita semua yang lahir jauh setelah beliau wafat. 

Bahkan kelak di Hari Kiamat, saat seluruh manusia diliputi ketakutan yang amat dahsyat, para Nabi lain hanya sempat memikirkan diri mereka sendiri seraya berkata, “nafsī, nafsī” (diriku, diriku). Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tampil berbeda. Beliau tidak berkata untuk dirinya, melainkan menyerukan dengan penuh cinta: “ummatī, ummatī” (umatku, umatku). Beliau akan memohon kepada Allah agar umatnya diselamatkan dari azab, sehingga disebut sebagai asy-syafā’ah al-‘uzhmā (syafaat terbesar).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ، وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَائِي، وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَلَا فَخْرَ

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, dan aku bukan untuk berbangga diri. Di tanganku ada bendera pujian, dan aku bukan untuk berbangga diri. Tidak ada seorang nabi pun pada hari itu – Adam dan yang lainnya – kecuali berada di bawah panjiku. Dan aku adalah orang yang pertama dibangkitkan dari bumi, dan aku bukan untuk berbangga diri.” (HR. Tirmidzi no. 3148)

Sesungguhnya potret kecintaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada umatnya tidak berhenti hanya sampai di dunia saja, namun juga sampai di akhirat, beliau tidak memanfaatkan keistimewaan yang dimiliki oleh para nabi, yaitu berupa doa yang pasti terkabul jika dipanjatkan, sejatinya beliau bisa memanjatkan doa tersebut untuk diri dan keluarganya saja, namun ternyata menyimpan doa tersebut demi kemaslahatan umatnya pada hari kiamat, beliau bersabda,

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Artinya: “Setiap Nabi memiliki doa yang pasti terkabul, dan setiap nabi telah melantunkan doa tersebut ketika mereka hidup (dan dikabulkan oleh Allah), sedangkan aku; maka aku simpan doaku untuk dijadikan sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

Khatimah

Sungguh besar cinta Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam pada ummatnya. Namun pertanyaannya, apakah kita termasuk ummatnya ? Akankah kita menjadi bagian kelompok yang mendapat syafaat dari Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam ? Jika kita meng-klaim sebagai bagian dari ummat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, merasa mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, apa buktinya ?!

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengharuskan kita mencontoh dan bersikap sama dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya. Dan diwujudkan dalam ittiba’ (meniru) Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kita mencintai semua yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam cintai, dan membenci semua yang Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam benci, ridha dengan semua yang beliau ridhai dan marah terhadap semua yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam marah padanya, serta mengamalkan semua tuntutan cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan.

Sungguh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam ridha dan cinta terhadap semua ketaatan pada Allah ta’ala, sebaliknya beliau benci terhadap segala kemaksiatan kepada Allah ta’ala. Maka tiada ukuran baik-buruk, benar – salah, kecuali berdasarkan tuntunan Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Maka bukti terbaik cinta kita pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya, baik dalam urusan ibadah maupun muamalah, hablum min Allah maupun hablum min an naas, ibadah mahdoh ataupun ghairu mahdah.

Allah ta’ala berfirman pada QS An Nisaa`13 yang artinya : “Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar“. Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Cinta Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam Kepada Ummatnya"