CINTA RASUL SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Pekan ini kaum muslimin mulai memasuki Bulan Rabiul Awwal. Sebuah bulan agung karena di bulan inilah manusia termulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dilahirkan. Begitu mulianya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga siapapun yang mencintai beliau insya Allah akan mendapatkan keberkahan karena cintanya pada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut.
Terdapat sebuah hadits yang disampaikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,
أَنَّ
رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ،
فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ
شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا
فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو
أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ
أَعْمَالِهِمْ
Seorang arab
badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari
kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”
Orang itu
menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau
bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Anas berkata,
“Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”
Anas
melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu
Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada
mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” (Muttafaqun
‘alaihi)
Hadits di atas menggambarkan bahwa cinta seorang muslim pada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam
bisa mendatangkan banyak keberkahan, bahkan dapat menjadi bekal menghadapi hari
kiamat. Seorang mukmin yang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, akan
dikumpulkan bersamanya, meskipun ibadah-ibadah yang dilakukannya tidak
sesempurna seperti ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Di sisi lain Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ
اَنْعَمَ
اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ
وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ
رَفِيْقًا
Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad),
maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh
Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid
dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS
an-Nisa [4]: 69).
Ayat di atas diturunkan kepada Sauban, budak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sauban adalah orang yang sangat mencintai Nabi dan seorang yang tidak kuat
berlama-lamaan tidak bertemu dengan Nabi. Ketika diceritakan tentang akhirat,
ia sangat khawatir tidak dapat bersama Rasulullah di surga, karena tentulah
Nabi akan bersama-sama dengan para Nabi yang lain.
Sauban pun khawatir dan cemas jika tidak bisa bertemu dengan Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa
Sallam lagi, terlebih ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
wafat. Ayat di atas juga mengisyaratkan
bahwa dahsyatnya perasaan cinta akan menjadikan seseorang yang mencintai itu
akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya.
Imam Ghazali mengungkapkan terkait makna cinta, menurutnya cinta
merupakan kecenderungan tabiat kepada sesuatu disebabkan sesuatu itu mempunyai
nikmat. Setiap kali kenikmatan sesuatu bertambah, maka semakin besar pula cinta
kepada sesuatu itu.
Rasa cinta terhadap sesuatu, menurut Imam Ghazali biasanya
diperoleh berdasarkan kenikmatan yang dirasakan oleh panca indera (misalnya
penglihatan dan pendengaran). Oleh Karena itu, di balik sesuatu yang ditangkap
oleh panca indera, maka terdapat sesuatu yang dicintai dan dinikmati.
Namun, hakikat cinta yang sejati menurut Imam Ghazali adalah
kenikmatan cinta yang berasal dari penglihatan non fisik (batin), yakni
kenikmatan hati. Kenikmatan hati yang disebabkan telah mengetahui
perkara-perkara ilahiah yang mulia dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera
merupakan sesuatu yang lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih besar
kenikmatannya.
Dengan demikian, meskipun kita tidak sezaman, dan tidak pernah
bertemu dengan Nabi Muhammad, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kenikmatan
untuk mencintainya. Justru, meskipun mereka tidak bisa ditangkap dengan panca
indera, kenikmatan untuk mencintainya akan tetap diperoleh, yakni melalui
kebaikan-kebaikan, sifat-sifat, serta ajaran-ajarannya.
Rudi Sirojudin Abas pada jabar.nu.or.id menulis, bahwa ada
orientasi-orientasi besar yang perlu direnungkan dan perlu diambil hikmah
terkait dengan kedudukan dan kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
yakni :
Pertama, bahwa mematuhi
perintah Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam sama halnya dengan mematuhi perintah
Allah ta’ala. Berkenaan dengan ini, Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa
menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS An-Nisa [4]: 80).
Kedua, hendaknya selalu menjadikan Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa
Sallam sebagai prioritas dalam segala hal, termasuk
di dalamnya kepentingan hidup di dunia dan di akhirat. Allah ta’ala berfirman yang
artinya: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan dengan
diri mereka sendiri.” (QS Al-Ahzab [33]: 6).
Ketiga, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan
satu-satunya orang yang harus sangat dicintai oleh setiap mukmin melebihi cinta
kepada siapa pun. Hal ini sebagaimana tersirat dalam sebuah hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
yang artinya : “Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih
dicintai olehnya daripada orangtuanya, anaknya, dan semua manusia.” (HR
Bukhari).
Khatimah
Cinta pada sesuatu / seseorang perlu dibuktikan. Dan bukti riil cinta
kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Salla adalah meneladani akhlaknya,
menjadikan Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam sebagai acuan dalam pemikiran,
tindakan, dan seluruh amal ibadah sehari-hari.
Allah ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ
كَثِيْرًاۗ
“Sungguh,
pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta
yang banyak mengingat Allah.” (Qs. al-Aḥzāb [33]:21).
Dr. Said Ramadhan al-Buthy menyatakan, “Kajian sejarah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan penggambaran yang jelas mengenai sisi kemanusiaan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagai
contoh yang paling luhur dan sekaligus potret paling sempurna bagi seluruh umat
manusia.”
Tentu hal ini menuntut pengetahuan mengenai sejarah kehidupan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (sirah).
Bagaimana akan mengenal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan
meneladaninya jika perjalanan hidupnya saja tidak tahu. Maka menyambut seruan
Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
kewajiban menuntut ilmu adalah awal wujud cinta pada Rasul. Hadir dalam majelis
– majelis ilmu guna menimba ilmu agama ini untuk selanjutnya meneladani
perbuatan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam
aktivitas sehari – hari.
Wallahu a’lam bi ashawab

Posting Komentar untuk "CINTA RASUL SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM"