Hanya Bergantung Kepada Allah ta'ala
Setiap orang pasti pernah merasakan pahitnya kekecewaan. Ketika seseorang yang dipercaya tidak memenuhi ekspektasi, hati terasa hancur. Inilah akibat dari terlalu besar menaruh harapan kepada manusia.
Manusia, siapapun dia, apakah keluarga, sahabat, pasangan, atau kerabat tetaplah makhluk yang penuh keterbatasan. Mereka bisa melakukan kesalahan, lupa, atau bahkan meninggalkan kita kapan saja, baik karena jarak, konflik, maupun kematian.
Berharap
kepada manusia secara berlebihan hanya akan menambah beban emosional. Meletakkan
kebahagiaan di tangan orang lain, padahal mereka tidak memiliki kendali penuh
atas hidup kita. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengalihkan
harapan hanya kepada Allah.
Menggantungkan
hati kepada Allah ta’ala berarti meyakini
dengan sepenuh jiwa bahwa segala urusan di alam semesta ini berada di bawah
kendali-Nya. Seseorang yang hatinya terpaut kepada Sang Khalik tidak akan mudah
goyah oleh ujian dunia. Ia memahami bahwa manusia hanyalah perantara, sementara
takdir dan keputusan akhir ada pada Allah ta’ala, sebagaimana
firman-Nya yang artinya, “Dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya
kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 8).
Ayat ini
menegaskan bahwa tempat terbaik untuk meletakkan harapan hanyalah kepada Allah.
Dia adalah Zat Yang Maha Mendengar, Maha Mengabulkan doa, serta tidak pernah
menelantarkan hamba-Nya. Berharap pada Allah membuat hati lebih tenang. Apa pun
hasil yang diberikan, akan merasa lebih ikhlas karena yakin bahwa rencana-Nya
selalu lebih baik dari rencana kita.
Pada ayat
lain Allah ta’ala mengingatkan hamba-Nya agar tidak berpaling kepada selain-Nya
dalam mencari perlindungan atau pemenuhan kebutuhan. Sebagaimana firman-Nya
yang artinya, ”Bukankah Allah cukup untuk
melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)
Ayat ini
merupakan tamparan sekaligus penghibur bagi setiap mukmin. Jika Allah ta’ala sudah menjamin kecukupan bagi hamba-Nya, maka tidak ada alasan lagi
untuk merasa cemas atau merasa butuh kepada sanjungan dan pertolongan makhluk
secara berlebihan. Berhenti berharap pada manusia agar terhindar dari
kekecewaan. Hanya kepada Allah kita bergantung, karena Dia tak pernah
mengecewakan hamba-Nya.
Setiap kali
sholat seorang muslim selalu membaca Al Fatihah, dimana pada salah satu
ayatnya menyebutkan :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Yang
artinya,”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta
pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).
Maka
selayaknya hal ini diterapkan dalam aktivitas di luar sholat. Senantiasa
berharap dan memohon pertolongan hanya pada Allah ta’ala.
Harapan
adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Setiap orang
selalu memiliki keinginan yang ingin dicapai, baik itu dalam pekerjaan,
penghasilan, hubungan sosial, maupun kebahagiaan pribadi. Namun sering kali terlalu
menggantungkan harapan tersebut kepada manusia lain. Padahal, berhenti berharap
pada manusia adalah salah satu kunci agar kita terhindar dari rasa kecewa yang
mendalam.
Ketika
seseorang menyandarkan harapannya kepada harta, jabatan, atau sesama manusia,
ia sebenarnya sedang membangun rumah di atas pasir. Kekecewaan adalah hasil
yang hampir pasti didapatkan. Lebih jauh lagi, ketergantungan hati kepada
selain Allah ta’ala dapat menjerumuskan seseorang ke dalam bentuk kesyirikan yang
samar.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan tentang dampak
dari ketergantungan kepada selain Allah ta’ala dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Ukaim yang artinya, ”Barangsiapa yang menggantungkan diri pada sesuatu, maka Allah
akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu tersebut. (HR. Tirmidzi dan
Ahmad)
Hadits ini
bermakna bahwa jika manusia bergantung pada kepintarannya, maka Allah ta’ala akan membiarkannya berusaha sendiri tanpa pertolongan-Nya. Jika seseorang
bergantung pada bantuan atasannya, maka Allah ta’ala akan membiarkan urusannya hanya sampai pada batas kemampuan manusia
tersebut. Sungguh merugi orang yang tidak mendapatkan pertolongan khusus dari
Allah ta’ala karena hatinya berpaling kepada makhluk.
Sebaliknya menggantungkan
hati kepada Allah ta’ala melahirkan sifat qana’ah (merasa
cukup) dan ridha. Seseorang yang hatinya sudah “selesai” dengan
Allah ta’ala tidak akan lagi
memusingkan apa yang dimiliki orang lain. Ia yakin bahwa apa yang menjadi
jatahnya tidak akan meleset, dan apa yang bukan jatahnya tidak akan pernah ia
dapatkan meski ia mengejarnya sekuat tenaga.
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menceritakan sebuah wasiat agung dari
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, ”Ketahuilah,
sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka
tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah
tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu mudarat
kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat itu kecuali dengan sesuatu
yang telah Allah tetapkan atasmu. (HR. Tirmidzi)
Untuk
mencapai derajat hati yang bergantung hanya kepada Allah ta’ala, ada beberapa hal yang bisa dibiasakan, diantaranya :
1. Memperbanyak
Doa. Selalu meminta petunjuk dan pertolongan Allah ta’ala dalam hal sekecil apa pun.
2. Mempelajari
Sifat – sifat Allah ta’ala. Mengenal
Allah ta’ala melalui nama-nama-Nya seperti Al-Kafi (Yang Maha
Mencukupi) dan Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi Rezeki), serta berdoa dengan menyebut nama – nama
Allah itu sesuai hajat atau harapan yang dimaksud.
3. Mengurangi
Harapan pada Manusia. Berbuat baiklah kepada manusia karena Allah ta’ala, bukan karena mengharap timbal balik dari mereka. Sadari bahwa
manusia memiliki keterbatasan. Jangan menuntut kesempurnaan dari orang lain,
karena kita pun tidak sempurna.
4. Bangun Hubungan dengan Allah. Perbanyak ibadah seperti shalat, membaca
Al-Qur’an, dan berdzikir. Dengan begitu, hati kita lebih mudah meletakkan
harapan hanya kepada Allah.
5. Jadikan Manusia sebagai Perantara, Bukan Tujuan. Kebaikan yang datang dari
manusia sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah. Maka, syukurilah tanpa
menjadikan manusia sebagai pusat harapan.
Khatimah
Ada doa yang diajarkan Rasul Shallalahu Alaihi wa
Sallam agar kita dapat senantiasa berharap pada Alla ta’ala,
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو
فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya, “Ya Allah, rahmat-Mu
yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku
sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak
ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau.” (Do’a dari hadis shahih riwayat
Abu Dawud).
Isti’anah artinya meminta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah
bisa dalam urusan agama maupun dunia. Jika Allah tidak memberi pertolongan
kepada seseorang, maka ia tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang
diinginkannya.
Isti’anah adalah bentuk nyata dari tauhid, karena seorang hamba yang
jujur dalam tauhidnya akan selalu menggantungkan hatinya hanya kepada Rabbnya.
Maka perkuatlah imanmu dengan membiasakan isti’anah kepada Allah dalam setiap
urusan, dan tinggalkan kebiasaan meminta kepada makhluk kecuali dalam perkara yang
memang dibolehkan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang
bergantung hanya kepada-Nya dan selalu dekat dalam doa dan harapan.

Posting Komentar untuk "Hanya Bergantung Kepada Allah ta'ala"