Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hanya Bergantung Kepada Allah ta'ala


Setiap orang pasti pernah merasakan pahitnya kekecewaan. Ketika seseorang yang dipercaya tidak memenuhi ekspektasi, hati terasa hancur. Inilah akibat dari terlalu besar menaruh harapan kepada manusia.

Manusia, siapapun dia, apakah keluarga, sahabat, pasangan, atau kerabat tetaplah makhluk yang penuh keterbatasan. Mereka bisa melakukan kesalahan, lupa, atau bahkan meninggalkan kita kapan saja, baik karena jarak, konflik, maupun kematian.

Berharap kepada manusia secara berlebihan hanya akan menambah beban emosional. Meletakkan kebahagiaan di tangan orang lain, padahal mereka tidak memiliki kendali penuh atas hidup kita. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengalihkan harapan hanya kepada Allah.

Menggantungkan hati kepada Allah ta’ala berarti meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa segala urusan di alam semesta ini berada di bawah kendali-Nya. Seseorang yang hatinya terpaut kepada Sang Khalik tidak akan mudah goyah oleh ujian dunia. Ia memahami bahwa manusia hanyalah perantara, sementara takdir dan keputusan akhir ada pada Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 8).

Ayat ini menegaskan bahwa tempat terbaik untuk meletakkan harapan hanyalah kepada Allah. Dia adalah Zat Yang Maha Mendengar, Maha Mengabulkan doa, serta tidak pernah menelantarkan hamba-Nya. Berharap pada Allah membuat hati lebih tenang. Apa pun hasil yang diberikan, akan merasa lebih ikhlas karena yakin bahwa rencana-Nya selalu lebih baik dari rencana kita.

Pada ayat lain Allah ta’ala mengingatkan hamba-Nya agar tidak berpaling kepada selain-Nya dalam mencari perlindungan atau pemenuhan kebutuhan. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, ”Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)

Ayat ini merupakan tamparan sekaligus penghibur bagi setiap mukmin. Jika Allah ta’ala sudah menjamin kecukupan bagi hamba-Nya, maka tidak ada alasan lagi untuk merasa cemas atau merasa butuh kepada sanjungan dan pertolongan makhluk secara berlebihan. Berhenti berharap pada manusia agar terhindar dari kekecewaan. Hanya kepada Allah kita bergantung, karena Dia tak pernah mengecewakan hamba-Nya.

Setiap kali sholat seorang muslim selalu membaca Al Fatihah, dimana pada salah satu ayatnya menyebutkan :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Yang artinya,”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).

Maka selayaknya hal ini diterapkan dalam aktivitas di luar sholat. Senantiasa berharap dan memohon pertolongan hanya pada Allah ta’ala.

Harapan adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Setiap orang selalu memiliki keinginan yang ingin dicapai, baik itu dalam pekerjaan, penghasilan, hubungan sosial, maupun kebahagiaan pribadi. Namun sering kali terlalu menggantungkan harapan tersebut kepada manusia lain. Padahal, berhenti berharap pada manusia adalah salah satu kunci agar kita terhindar dari rasa kecewa yang mendalam.

Ketika seseorang menyandarkan harapannya kepada harta, jabatan, atau sesama manusia, ia sebenarnya sedang membangun rumah di atas pasir. Kekecewaan adalah hasil yang hampir pasti didapatkan. Lebih jauh lagi, ketergantungan hati kepada selain Allah ta’ala dapat menjerumuskan seseorang ke dalam bentuk kesyirikan yang samar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan tentang dampak dari ketergantungan kepada selain Allah ta’ala dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Ukaim yang artinya, ”Barangsiapa yang menggantungkan diri pada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu tersebut. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hadits ini bermakna bahwa jika manusia bergantung pada kepintarannya, maka Allah ta’ala akan membiarkannya berusaha sendiri tanpa pertolongan-Nya. Jika seseorang bergantung pada bantuan atasannya, maka Allah ta’ala akan membiarkan urusannya hanya sampai pada batas kemampuan manusia tersebut. Sungguh merugi orang yang tidak mendapatkan pertolongan khusus dari Allah ta’ala karena hatinya berpaling kepada makhluk.

Sebaliknya menggantungkan hati kepada Allah ta’ala melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) dan ridha. Seseorang yang hatinya sudah “selesai” dengan Allah ta’ala tidak akan lagi memusingkan apa yang dimiliki orang lain. Ia yakin bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan meleset, dan apa yang bukan jatahnya tidak akan pernah ia dapatkan meski ia mengejarnya sekuat tenaga.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menceritakan sebuah wasiat agung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, ”Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat itu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. (HR. Tirmidzi)

Untuk mencapai derajat hati yang bergantung hanya kepada Allah ta’ala, ada beberapa hal yang bisa dibiasakan, diantaranya :

1.      Memperbanyak Doa. Selalu meminta petunjuk dan pertolongan Allah ta’ala dalam hal sekecil apa pun.

2.      Mempelajari Sifat – sifat Allah ta’ala. Mengenal Allah ta’ala melalui nama-nama-Nya seperti Al-Kafi (Yang Maha Mencukupi) dan Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi Rezeki),  serta berdoa dengan menyebut nama – nama Allah itu sesuai hajat atau harapan yang dimaksud.

3.      Mengurangi Harapan pada Manusia. Berbuat baiklah kepada manusia karena Allah ta’ala, bukan karena mengharap timbal balik dari mereka. Sadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Jangan menuntut kesempurnaan dari orang lain, karena kita pun tidak sempurna.

4.      Bangun Hubungan dengan Allah. Perbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Dengan begitu, hati kita lebih mudah meletakkan harapan hanya kepada Allah.

5.      Jadikan Manusia sebagai Perantara, Bukan Tujuan. Kebaikan yang datang dari manusia sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah. Maka, syukurilah tanpa menjadikan manusia sebagai pusat harapan.

 

Khatimah

Ada doa yang diajarkan Rasul Shallalahu Alaihi wa Sallam agar kita dapat senantiasa berharap pada Alla ta’ala,

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau.” (Do’a dari hadis shahih riwayat Abu Dawud).

Isti’anah artinya meminta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah bisa dalam urusan agama maupun dunia. Jika Allah tidak memberi pertolongan kepada seseorang, maka ia tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang diinginkannya. 

Isti’anah adalah bentuk nyata dari tauhid, karena seorang hamba yang jujur dalam tauhidnya akan selalu menggantungkan hatinya hanya kepada Rabbnya. Maka perkuatlah imanmu dengan membiasakan isti’anah kepada Allah dalam setiap urusan, dan tinggalkan kebiasaan meminta kepada makhluk kecuali dalam perkara yang memang dibolehkan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bergantung hanya kepada-Nya dan selalu dekat dalam doa dan harapan.

Wallahu a’lam bi ashawab.

Posting Komentar untuk "Hanya Bergantung Kepada Allah ta'ala"