Pemuda Pencari Ilmu
Sahabat Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) radhiyallahu anhu menyampaikan, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dari kalangan pemuda, dan tidaklah seorang alim diberikan suatu ilmu kecuali ia juga seorang pemuda." (HR. Ibnu Abi Hatim)
Para ulama menerangkan bahwa sebagian besar Nabi menerima wahyu atau diangkat sebagai Rasul pada usia muda atau puncak kematangan usia pemuda (sekitar 40 tahun), yang dalam istilah bahasa Arab masih masuk ke dalam fase kekuatan pemuda (syabab). Beberapa Nabi bahkan diangkat saat usianya lebih muda, seperti Nabi Yahya dan Nabi Isa 'alaihimas salam.
Ada sejumlah ayat dalam Al Qur’an yang mengisahkan tentang para pemuda,
salah satunya pada QS. Al-Kahfi [18]: 60–82. Rangkaian ayat ini merupakan kisah
perjalanan pencarian ilmu Nabi Musa
bersama pelayannya (pemuda pendamping) dan kemudian pertemuannya dengan Nabi Khidir
untuk mempelajari hikmah dari peristiwa-peristiwa.
Ayat – ayat di atas memberikan banyak hikmah bagi ummat Islam, menurut Mutaqin Al-Zamzami dalam Jurnal El Tarbawi, menyebutkan
bahwa kelompok ayat tersebut memberikan ibrah tentang etika atau adab para
penuntut ilmu.
Allah ta’ala berfirman pada QS Al Kahfi : 60 – 64 yang artinya, (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya,
“Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau
aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.Ketika mereka sampai ke
pertemuan dua laut, mereka lupa ikannya, lalu (ikan mereka) melompat mengambil
jalan ke laut itu.
Ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa
berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita. Sungguh, kita
benar-benar telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau
ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa
(bercerita tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuatku lupa untuk
mengingatnya, kecuali setan. (Ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara
yang aneh. Dia (Musa) berkata, “Itulah yang kita cari.” Lalu keduanya kembali
dan menyusuri jejak mereka semula.
Kelima ayat ini memberi pelajaran tentang adab
pertama seorang penuntul ilmu, yakni harus mempunyai
semangat yang tinggi dan tidak putus asa dalam mencari ilmu, meski jarak
yang ditempuh jauh dan membutuhkan waktu yang lama.
Nabi Musa bertekad tidak akan berhenti mencari orang shalih yang
berilmu (Mayoritas ulama menafsirkan orang yang dimaksud adalah Nabi Khidir)
yang akan dijadikannya sebagai tempat menuntut ilmu, walau harus berjalan atau
mencarinya bertahun – tahun. Pelajaran penting bagi para penuntut ilmu,
khususnya di kalangan generasi muda, untuk tidak mudah putus asa dalam upaya
menuntut ilmu, terutama ilmu agama sebagai bekal hidup.
Terus mencari ilmu sepanjang hayat, bahkan di tempat yang jauh.
Sebagaimana Maqolah ulama yang populer :
أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.”
Adab lain seorang (pemuda) penuntut ilmu adalah seorang murid
harus bersikap sopan kepada gurunya. Pada QS Al Kahfi : 65 disebutkan, fa wajadâ ‘abdam min ‘ibâdinâ âtainâhu raḫmatam min
‘indinâ wa ‘allamnâhu mil ladunnâ ‘ilmâ
yang artinya Lalu, mereka berdua bertemu dengan seorang dari hamba-hamba Kami
yang telah Kami anugerahi rahmat kepadanya dari sisi Kami. Kami telah mengajarkan
ilmu kepadanya dari sisi Kami.
Menurut al-Thabary kata ‘abdan min ‘ibadina pada ayat 65
merujuk kepada Nabi Khidir Alaihissalam. Ayat selanjutnya menceritakan bagaimana Musa Alaihissalam kemudian
mendatangi khidir seraya mengatakan keinginannya untuk berguru kepada Nabi
Khidir. Dalam cerita tersebut tergambarkan ketika Nabi Musa meminta izin untuk
mengikuti (baca: belajar) kepada Nabi Khidir Alaihissalam.
Adab berikutnya adalah Berbaik-sangka dan meyakini bahwa guru
lebih pandai dari murid. Dengan melakukan hal ini akan muncul sifat
ketawadu’an kepada guru serta dengan sendirinya akan menghilangkan sifat
sombong. Hal ini tersirat pada QS. Al Kahfi : 66, qâla lahû mûsâ hal attabi‘uka ‘alâ an tu‘allimani mimmâ ‘ullimta rusydâ artinya Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu
agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah
diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”
Nilai tersebut diisyaratkan dalam frasa mimma ullimta rusydan
(di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu). Ini selaras dengan
filosofi gelas kosong, seorang murid ibarat gelas kosong yang akan dapat diisi
lagi tambahan ilmu dari gurunya.
Keempat, Murid tidak selayaknya mudah merasa tersinggung,
tatkala guru (kadang) melemahkan murid dengan perkataannya.
“Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang
yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Al-Kahfi: 69). Ayat tersebut merupakan respon dari perkataan
Nabi Khidir Alaihissalam yang telah melemahkan Nabi Musa Alaihissalam dengan perkataan: “Sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat
sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
hal itu? (Al-Kahfi: 67-68).
Dalam ayat 68, dapat kita simpulkan bahwa ketika guru melakukan
sesuatu yang terlihat seperti melemahkan/merendahkan seorang murid,
sesungguhnya hal itu disebabkan oleh keadaan guru yang lebih mengetahui suatu
perkara dibandingkan muridnya. Jadi, terkadang logika murid tidak mampu
menangkap rasionalitas tindakan seorang guru. Di sisi lain, ayat ini dapat
dimaknai sebagai sebuah motivasi Nabi Musa Alaihissalam untuk lebih bersabar/lebih giat dalam
belajar agar dapat memahami perkataan/tindakan gurunya.
QS. Al Kahfi : 69 juga bisa dipahami tentang adab lain seorang
penuntut ilmu, yakni Mempunyai komitmen untuk menjalankan perintah guru.
Adab lain seorang murid adalah Bertanya kepada guru sesuai dengan
izin dan kondisi sang guru. Sebagaimana hikmah dari QS. Al Kahfi 70 yang
artinya, “Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu
menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya
kepadamu.”
Kemudian seorang murid memiliki rasa penyesalan dan permintaan
maaf kepada guru, ketika murid melakukan kesalahan. Sebagaimana ibrah dari
QS. Al Kahfi : 73 yang artinya, “Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku
karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan
dalam urusanku.”
Bahkan selayaknya Seorang murid harus siap menerima konsekuensi
atas pelanggaran yang dilakukan. Sebagaimana hikmah dari ayat : Khidhr
berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan
kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”
(QS. Al Kahfi: 78).
Khatimah
Kisah Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Khidir Alaihissalam dalam surat al-Kahfi ayat 60-82 tidak secara langsung dapat
ditafsirkan dalam konteks penafsiran tarbawi (pendidikan). Akan tetapi,
ayat-ayat tersebut mengandung nilai-nilai yang penting, yakni penghormatan
tinggi yang dilakukan Nabi Musa Alaihissalam sebagai murid kepada Nabi Khidir Alaihissalam sebagai sang
guru.
Pelajaran tentang tekad tidak mudah putus asa dalam menuntut ilmu
serta adab yang harus dimiliki selama menuntut ilmu. Gambaran salah satu akhlaq
seorang muslim yang senantiasa menjadi penuntut ilmu/murid/santri sepanjang
hidupnya, berikut dengan segala adab – adabnya. Semoga kita bisa istiqomah
menuntut ilmu (walapun sudah tidak muda), terutama ilmu – ilmu agama Islam
karena merupakan “yuntafa’u bihi” : yang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri
dan masyarakat.
Wallahu a’lam bi ashawab.

Posting Komentar untuk "Pemuda Pencari Ilmu"