Pemuda Dan Masa Depan Ummat
Pemuda selalu menempati posisi sentral dalam sejarah perubahan sosial dan kebangkitan peradaban. Dalam lintasan sejarah Islam maupun peradaban dunia, hampir seluruh proyek besar transformasi masyarakat digerakkan oleh generasi muda yang memiliki energi, idealisme, dan keberanian melampaui konteks zamannya.
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berpesan “Jika ingin melihat masa depan sebuah ummat lihatlah pemudanya hari ini”. Pemuda adalah tonggak dan tolok ukur peradaban masa depan negara. Maju dan mundurnya peradaban sebuah bangsa ditentukan pemudanya dimanapun dan kapanpun.
Di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pemuda
punya peranan penting dalam perkembangan dakwah Islam. Sahabat-sahabat Rasulullah
kebanyakan berusia muda. Deretan remaja
menyertai Rasulullah dalam dakwah dan perjuangan Islam, diantaranya Thalhah bin
Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Arqom bin Abil Arqom, Ali bin Abi Tholib, Said
bin Zaid dan Zaid bin Sabit.
Banyak pula sahabat muda menjadi panglima perang dan pemimpin
ummat. Usama bin Zaid sebagai panglima menyerbu Syam pada usia 18 tahun. Atab
bin Usaid sebagai gubernur Makkah pada usia 18 tahun. Dan masih banyak lagi
sahabat Rasulullah mengukir prestasi di usia muda.
Sejarah emas telah ditorehkan sahabat muda Rasulullah
yang penuh dedikasi yang tinggi dengan adab yang mulia, mampu menopang
perjuangan dakwah Islam. Hingga Allah ta’ala memuji ummat Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam dalam QS Al Imran : 110, Kuntum khaira ummatin ukhrijat
lin-nāsi ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh,
walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn.
Yang
artinya, Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih
dan tafsir negeri Suriah menerangkan tentang ayat ini bahwa, “Kamu adalah umat
yang dijadikan Allah sebagai umat yang terbaik, kalian telah menjadi ketetapan
Allah atas hal ini. Umat Islam adalah umat terbaik secara mutlak.
Mereka adalah umat yang telah dipilih sebab
mereka diperintahkan untuk menyeru kepada yang ma’ruf ma’ruf: yaitu yang baik
sesuai perintah syariat dan mencegah dari yang munkar: yaitu segala perkataan,
perangai atau perbuatan yang bertentangan dengan syariat. Juga sebab bahwa mereka
beriman kepada Allah dan meyakini bahwa Allah tidak mempunyai sekutu.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa ummat Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam (Ummat Islam) telah ditetapkan oleh Allah
ta’ala sebagai ummat yang terbaik, hal ini karena mereka beriman pada Allah ta’ala,
menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) serta mencegah kemungkaran (nahi munkar)
Pemuda Masa Kini
Jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2025 mencapai
66,83 juta jiwa atau sekitar 23,50 persen dari total penduduk. Secara fisik, anak muda berada pada kondisi stamina yang tinggi,
sehingga memiliki peluang besar untuk melakukan berbagai aktivitas, terlebih
jika aktivitas tersebut sesuai dengan minat yang mereka pilih. Dengan usaha
yang sungguh-sungguh, arah yang tepat, serta perjumpaan dengan keberuntungan,
seorang anak muda pada usia ini akan dapat mencapai puncak prestasi dalam
bidang yang digelutinya
Namun persoalan pemuda tidak hanya dapat dibaca
semata dari sisi kuantitas. Jumlah yang terbatas sering kali menjadi alarm bagi
perlunya evaluasi serius. Sebaliknya jumlah yang banyak seakan – akan
menggambarkan besarnya potensi. Namun, kuantitas tidak pernah berdiri sendiri,
yang lebih menentukan adalah kualitas, terutama keberadaan generasi muda yang
memiliki militansi, kapasitas intelektual, dan kesiapan memikul amanah jangka
panjang. Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali digerakkan oleh
kelompok kecil yang terdidik dan terorganisasi dengan baik.
Namun, kita juga harus menyadari bawah potensi
tersebut tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Potensi hanya bermakna ketika
dipertemukan dengan pembinaan, pendampingan, takwin, dan arah
perjuangan yang jelas. Dengan kata lain keterlibatan pemuda dalam proses
pembinaan ummat sangatlah penting.
Membina diri dan lingkungan dengan iman dan Islam
serta turut turun dalam gelanggang aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Berperan
menentukan arah perjalanan ummat sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah.
Kalaupun belum mampu berkontribusi aktif
melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, setidaknya beraktivitas dengan akhlaq
islam sebagai bagian dakwah tidak langsung kepada publik.
Pada QS. Al Kahfi 13-14 Allah ta’ala berfirman
yang artinya: “Kami berkisah padamu mengenai cerita fantastik yang nyata.
Mereka itu memang benar-benar para pemuda yang beriman pada Tuhan mereka. Kami
pun menambahkan petunjuk untuk mereka. Kami meneguhkan hati mereka saat mereka
berdiri, lalu mereka pun berikrar, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan
bumi; kami tidak akan pernah memohon pada selain Dia. Jika demikian, sungguh kami
telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS: Al-Kahfi Ayat
13-14)
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok pemuda beriman yang hidup
pada masa Raja Diqyanus di Romawi. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah
berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada
sekelompok pemuda yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu
memanggil dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi
Ashabul Kahfi menolak perintah itu dan lari menjauh dari sang raja. Dikejarlah
mereka untuk dibunuh. Namun, mereka selamat dari kejaran pasukan raja dengan
bersembunyi di sebuah gua.
Mereka berdoa agar Allah ta’ala senantiasa memberinya petunjuk
yang lurus dalam setiap urusan yang mereka hadapi. Usaha mereka untuk
bersembunyi di gua dan doa-doa mereka agar Allah senantiasa memberinya petunjuk
merupakan bukti bahwa Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang gigih
mempertahakan iman, yakni iman tauhid yang hanya menyembah Allah ta’ala. Dengan
perlindungan Allah ta’ala mereka kemudian tidur selama bertahun-tahun di dalam
gua itu.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, menyebut angka 309
tahun untuk menunjukkan lamanya mereka tidur dalam gua. Mereka mulai tidur di
jaman pemerintahan Raja Diqyanus dan baru bangun setelah raja yang berkuasa
telah berganti beberapa generasi. Masyarakat beserta sang raja pada saat itu
sudah beriman kepada Allah ta’ala.
Allah sengaja mengangkat kisah Ashabul Kahfi sebagai kisah teladan
dari para pemuda yang memang layak untuk menjadi suri teladan dari generasi ke
generasi. Apalagi di zaman sekarang dimana tingkat godaan lebih besar dari pada
jaman dahulu. Yang lebih ditekankan dalam kisah Ashabul Kahfi ini adalah
perlunya mempertahankan iman dalam kondisi apa pun. Iman memiliki peran sangat
penting karena dari situlah akan lahir amal-amal saleh dalam kehidupan di dunia
ini yang buahnya akan dinikmati terutama di akhirat nanti.
Khatimah
Sungguh pemuda bukan sekadar
pelengkap, melainkan penentu masa depan peradaban. Sinergi antara kearifan
generasi senior dan semangat generasi muda adalah prasyarat mutlak
keberlanjutan. Jika potensi (sebagai ummat terbaik) telah disiapkan oleh
sejarah dan zaman, maka saatnya generasi masa kini bertanggung jawab menyiapkan
jalan dan menjaga predikat sebagai ummat
terbaik hingga akhir jaman dengan beristiqomah dalam keimanan pada Allah ta’ala
serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.
Wallahu a’lam bi ashawab.

Posting Komentar untuk "Pemuda Dan Masa Depan Ummat"