Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MUSUH YANG SEBENARNYA

Perselisihan di antara manusia seringkali terjadi karena dipicu oleh berbagai hal, baik karena alasan finansial, sosial, perbedaan ritual dan lain sebagainya. Tak jarang perselisihan yang berkepanjangan tersebut tidak terselesaikan dengan baik hingga melahirkan permusuhan yang membekas, bahkan hingga generasi berikutnya.

Permusuhan yang panjang dan luas ini terjadi karena “salah memilih musuh”, hingga terjadi sesama muslim saling bermusuhan secara berkepanjangan, bahkan karena persoalan yang sepele, seperti perbedaan pilihan politik, perbedaan klub sepak bola, pembagian harta dan sebagainya. Manusia sering lupa bahwa sesama muslim sesungguhnya bersaudara. Persaudaraan karena aqidah Islam. Dan musuh sesungguhnya bagi seorang muslim adalah “setan”.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 112)

Setan-setan adalah musuh bagi para Nabi dan para ulama yang menjadi pewaris para Nabi, juga bagi setiap mubalig yang menyiarkan agama Allah. Serta manusia yang berusaha istiqomah di jalan Islam dalam kehidupannya.

Pada ayat lain Allah ta’ala berfirman yang artinya, "Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) Setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia." (QS Surat an Naas: 1-6)

Di dalam ayat-ayat yang mulia di dalam surat tersebut diperintahkan agar berlindung dari bisikan setan yang bersembunyi yang senantia membisikkan ke dalam dada manusia, dan di dalamnya menjelaskan kondisi bisikan-bisikan tersebut, yang bisa jadi pembisik tersebut dari golongan jin atau mungkin saja dari golongan manusia.

Al Hasan Al Bashri  berkata: Kedua-duanya merupakan setan, adapun setan yang berbentuk jin maka dia membisikkan ke dalam dada manusia, dan adapun setan yang berwujud manusia maka dia datang secara jelas dan nyata. 

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahullah berkata: "Yang benar dalam memberikan pengertian tentang ayat dalam firman Allah: (مِنْ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ) yaitu menjelaskan tentang siapa yang membisikkan, dan mereka ada dua macam: Yaitu jenis jin dan manusia. Adapun jin maka dia membisikkan ke dalam dada manusia, sedang manusia pun juga membisikkan ke dalam dada manusia. Dan bentuk kesertaan keduanya dalam bisikan ini adalah  kesertaan keduanya dalam menebarkan pengaruh setan

Maka dalam hal ini setan membisikkan kepada manusia sebuah kebatilan, lalu manusia tersebut membisikkan kebatilan ini kepada manusia yang lain, maka setan-setan dari jenis manusia dan jin keduanya ikut andil dalam menebarkan pengaruh setan dan keduanya ikut serta dalam memberikan bisikan-bisikan. Ayat di atas menganjurkan agar berlindung dari kejahatan dua jenis setan tersebut, yaitu setan dari golongan manusia dan setan dari golongan jin.

Permusuhan dan peperangan antara manusia dan setan akan berlangsung terus menerus sampai hari kiamat. Banyak ayat-ayat al-Qur’ân yang memberi peringatan agar selalu waspada terhadap bujukan setan dan keterampilannya dalam menyesatkan manusia dengan ketekunan dan semangat yang tinggi.

Bagaimana tidak, setan yang pertama kali mengganggu manusia, oleh Allâh  diberikan penangguhan kematian hingga hari kiamat, sehingga strategi setan dan para pengikutnya dalam menyesatkan manusia terus menerus diperbarui, yang akibatnya cara setan berperang dengan manusia semakin penuh dengan tipu muslihat. Semakin tinggi kualitas seorang manusia dalam hal ketakwaan kepada Allâh, maka semakin tinggi pula kualitas tipu muslihat setan untuk mengganggunya. Cara setan mengganggu orang biasa tentu akan berbeda dengan cara setan mengganggu seorang yang berilmu.

Manusia yang beriman, tentu harus memposisikan setan sebagai musuh yang sebenarnya sekaligus harus mewaspadai tipu dayanya. Rasa dendam yang dimiliki setan semenjak diusir dari surga akan terus membakar semangatnya dalam menyesatkan manusia sampai datangnya hari kiamat. Tidak ada satu manusia pun yang terlepas dari gangguan setan. Oleh karena itu, mari kita sama-sama mencermati beberapa teknik setan dalam menyesatkan manusia.

1.   Menghiasi kebatilan.

2.   Lalai atau berlebihan.

Tentang masalah ini, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa setiap ada perintah Allâh, setan punya dua pilihan; pertama mendorong lalai dan kedua berlebihan.

Setan mendatangi hati manusia dan mendeteksinya. Jika ia mendapati seorang hamba yang kurang semangat, lalai dan hanya menginginkan keringanan-keringanan saja, maka setan menempuh jalan ini; dirintanginya, disuruhnya diam, ditimpakan kemalasan, dan sebagainya.

Jika setan menemukan orang yang selalu siaga, rajin, penuh semangat, maka ia tidak menempuh cara tadi. Ia justru perintahkan orang itu untuk lebih rajin lagi dan tidak merasa cukup atas amal yang telah dikerjakannya; tidak tidur kalau orang lain tidur, tidak buka puasa kalo orang lain berbuka, dan sebagainya yang pada intinya adalah berlebihan.

Yang pertama manusia didorong untuk tidak mengerjakan perintah, sedangkan yang kedua untuk melampaui batas. Banyak orang yang terperdaya dengan usaha setan yang kedua ini dan tidak selamat, kecuali orang yang berilmu dengan mendalam, punya keimanan dan kekuatan untuk melawan setan, dan selalu menempuh jalan tengah (shirâthal mustaqîm).

3.   Merintangi amal dan menganjurkan menangguhkannya

4.   Memberikan janji-janji dan membangkitkan angan-angan

5.   Berpura-pura menasihati.

6.   Bertahap dalam menyesatkan

7.   Memunculkan rasa takut dan keraguan

8.   Masuk di hati dan menuruti kesenangan hati

 

Khatimah

Sungguh perang kaum mukmin melawan setan (dari kalangan jin dan manusia) ini adalah medan pertempuran yang abadi. Hal ini merupakan bagian ujian bagi orang beriman. Setan-setan yang menjadi musuh yang berusaha membisikkan  bujukan yang indah-indah untuk menipu, dan mengelabui penglihatan mereka sehingga dengan tidak disadari mereka tergelincir dari jalan yang benar.

Sekiranya Allah menghendaki agar setan-setan itu tidak menipu manusia, tentulah setan-setan itu tidak dapat berbuat apapun. Tetapi Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan menurut petunjuk akalnya yang sehat dan memilih jalan yang akan ditempuhnya, jalan yang benar atau jalan yang salah.

Oleh karena itu, kita diperintah untuk tidak menghiraukan mereka (setan), serta istiqomah memilih jalan sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah, bukan jalan lain yang tidak dituntunkan oleh syariat, sebab nanti manusia di akhirat harus mempertanggungjawabkan segala tingkah laku mereka selama di dunia. Semoga kita senantias diberi petunjuk agar senantiasa terhindar dari bujukan setan serta istiqomah di jalan Islam sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al Qur’an :

  رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  وَّهَيِّئْ  لَـنَا  مِنْ  اَمْرِنَا  رَشَدًا

“Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi : 10)

Wallahu a’lam bi ashawab

Posting Komentar untuk "MUSUH YANG SEBENARNYA"