Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Amal Manusia

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju memberikan banyak kemudahan dan fasilitas bagi ummat manusia. Teknologi informasi telah banyak membantu manusia untuk saling berkomunikasi dan mendokumentasikan aktivitas – aktivitasnya. Mulai dari teknologi pita kaset hingga hari ini dikenal teknologi data cloudy untuk mendokumentasikan aktivitas baik berupa audio, video maupun bentuk lain serta menyimpannya di lokasi yang “tidak tampak”. Bahkan teknologi artificial intellegence atau AI mampu merekonstruksi gambar menjadi video dinamis.

Adakah ibrah dari semua ini ? Kemajuan IT juga memberi hikmah – salah satunya - Jika manusia mampu merekam / mendokumentasi serta merekonstruksi sesuatu aktivitas yang telah berlalu, niscaya Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha Tahu dan dan Maha Kuasa yang kuasa mendokumentasikan seluruh amal perbutan manusia sepanjang hidupnya.

Sungguh benar firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)

Allah Ta’ala telah menugaskan para Malaikat yang mulia untuk mengawasi dan mencatat perbuatan dan ucapan manusia. Mereka mencatatnya dalam lembaran catatan amal yang akan dibaca oleh manusia pada hari Kiamat kelak. Para Malaikat yang mulia ini benar-benar sangat amanah dan teliti dalam mencatat. Mereka mencatat semua ucapan dan perbuatan manusia, secara detail dan terperinci, baik yang zhohir maupun batin.

Apa hikmah dicatatnya amal perbuatan manusia, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?

Salah satu hikmahnya - Wallohu Ta’ala a’lam - pencatat ini dilakukan untuk menampakkan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena di hari Kiamat kelak, manusia akan disuruh membaca catatan amalnya dan menghisab dirinya, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang yang bermaksiat untuk mengingkari dosa-dosanya, karena semua telah tertulis.

Tatkala lembaran catatan amal dibagikan, setiap umat berlutut di atas lutut mereka dan menanti panggilan untuk menghadap Rabb semesta alam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

Kemudian kitab catatan amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya. Lalu dikatakan kepadanya yang artinya, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 13-14)

Pada saat itulah semua manusia akan teringat apa yang dulu telah ia lakukan. Semua telah tercatat dengan lengkap dan tiada kekeliruan sedikit pun. Sebagian ulama mengatakan, “Sungguh, Allah telah berlaku adil, karena menjadikan dirimu sebagai penghisab atas dirimu sendiri.”

Setiap hamba akan diberikan bukunya masing-masing yang berisi catatan lengkap seluruh amal perbuatan yang telah ia lakukan dalam kehidupan dunia. Cara penyerahan buku itu berbeda-beda.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

 “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya :

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.” (QS. Al-Haqqoh: 25-29)

Dari ayat-ayat tersebut, Allah menggambarkan bagaimana kondisi manusia yang menerima catatan amalnya. Ada dua golongan yang dideskripsikan pada ayat-ayat tersebut. Pertama, golongan yang menerima catatan amal dengan tangan kanan. Kedua, golongan yang menerima catatan amal dengan tangan kiri. Mengutip Al-Mawardi dalam An-Nukat wal ‘Uyun, bahwa penggunaan redaksi kanan dan kiri ini selaras dengan kebiasaan orang Arab. Di mana kanan sebagai istilah dari tanda kebahagiaan dan sebaliknya, kiri adalah tanda kesengsaraan dan kecelakaan.

Lebih detail lagi, kelompok pertama adalah golongan yang diberi catatan amal dengan tangan kanannya. Ciri-ciri seperti ini menunjukkan bahwa mereka termasuk orang yang beriman sekaligus pertanda mereka akan selamat di akhirat.  Kondisi di atas berbanding terbalik dengan kelompok kedua yang menerima dengan tangan kirinya. Mereka adalah orang – orang yang tidak beriman serta orang – orang munafiq. Mereka dihantui dengan rasa malu yang teramat sangat karena diperlihatkan langsung dengan segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan.  Ibarat menerima rapor yang tertulis nilai merah semua, tentu membuat pemiliknya sangat malu, entah melihatnya sendiri, atau bahkan memperlihatkan catatan tersebut pada orang lain.  

Adapun Imam Jalaluddin Abdurrohman bin Abu Bakar As Suyuthi, menerangkan pembagian catatan ‘amal terbagi menjadi tiga macam.

Pertama, catatan yang Allah Ta’ala tidak akan pernah mengampuninya sama sekali. Yaitu adalah dosa yang diperoleh dari  mempersekutukan Allah Ta’ala atau musyrik. Dosa tersebut apabila tidak ditaubati dan kembali beriman, maka sama sekali tidak akan pernah terampuni oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana termaktub dalam QS. An Nisa’ ayat 48 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

Kedua, catatan yang Allah Ta’ala tidak memperdulikannya sama sekali. Hal ini dapat terjadi pada dosa yang dilakukan seorang muslim atas perbuatan dhalim yang berhubungan langsung dengan Allah Ta’ala. Contoh seorang muslim meninggalkan sholat atau puasa wajib yang pada dasarnya merupakan suatu perbuatan dosa. Namun karena Allah Ta’ala itu Dzat yang Ghofurur Rohim, bisa saja dosa tersebut tidak diperdulikan-Nya ketika Dia berkehendak.

Ketiga, catatan yang tidak akan pernah ditinggalkan Allah Ta’ala. Catatan ini jatuh pada dosa seorang muslim yang dihasilkan atas perbuatan dhalimnya pada muslim lain. Selagi orang yang terdhalimi belum meridhai atau memaafkannya, maka Allah Ta’ala tidak akan pernah menghapus catatan ini.  Oleh karena itu Allah Ta’ala juga menetapkan hukum qishash pada kedhaliman yang dilakukan terhadap muslim lain. Termaktub dalam QS. Asy Syuura ayat 42 yang artinya : “Sesungguhnya dosa itu, (dibebankan) atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia, dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.



Khatimah

Hal penting bagi tiap muslim adalah wajib beriman pada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Artinya, ketika ada keraguan atau rasa pengingkaran dalam hati seseorang akan peristiwa tersebut maka keimanannya patut dipertanyakan ulang. Para ulama bersepakat bahwa peristiwa tersebut akan terjadi karena informasinya terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits. Artinya, telah terjadi ijma’ (konsensus) dalam hal ini. Oleh karena itu, siapa pun yang mengingkarinya akan dianggap kufur.

Terlepas dari semua gambaran mengenai penyerahan catatan amal di hari kiamat, tugas seorang muslim adalah beriman kepada peristiwa tersebut. Beriman yang dimaksud bukan hanya sebatas meyakini dalam hati, namun dengan memerhatikan apa yang telah diperbuatnya, apakah didominasi dengan amal baik atau amal buruk?!

Wallahu a’lam bi ashawab

Posting Komentar untuk "Catatan Amal Manusia"