Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

LADANG PAHALA

Kehidupan tidak selalu seperti yang dibayangkan, seringkali realitas yang terjadi menunjukkan kondisi yang berbeda dengan hal yang diharapkan. Kita senantiasa berharap dalam kondisi sehat wal afiat, namun nyatanya dalam periode tertentu manusia berada dalam kondisi yang tidak sehat atau sakit.

Sakit merupakan bagian dari takdir Allah ta’ala bagi hamba-Nya. Sesungguhnya sakit bukan hanya sekedar rasa nyeri, kondisi fisik yang lemah atau menyiksa, ataupun rasa ketidaknyamanan. Namun dalam perspektif Islam, sakit adalah kondisi yang menjadi ladang pahala. Bukan hanya bagi individu yang sakit, tapi juga bisa menjadi ladang amal bagi masyarakat di sekitarnya bahkan bagi para pemimpin kaum muslimin.

Islam mengajarkan agar setiap muslim mengambil ibrah atau pelajaran dari peristiwa yang terjadi pada dirinya atau lingkungannya, termasuk mengambil hikmah atas kondisi sakit. Bagi individu muslim yang sedang diuji dengan kondisi sakit sesungguhnya ia diberi kesempatan untuk mendapatkan kebaikan dengan cara yang berbeda dengan individu lain yang sedang dalam kondisi normal atau sehat.

Allah ta’ala dan rasul-Nya memberikan janji kebaikan tersebut bagi orang – orang yang diuji sakit, diantaranya :

Pahala ibadah yang tetap mengalir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, maka Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari no. 2996)

Artinya jika saat sehat seorang muslim istiqomah melakukan suatu kebaikan secara rutin, misalnya memberi kultum setiap subuh di musholla, maka niscaya Allah ta’ala tetap mencatat ia sedang melakukan kebaikan tersebut walaupun secara faktual ia “libur beramal” karena terhambat oleh penyakitnya. Sebagaiman telah dijelaskan pula oleh Imam An Nawawi, “Barangsiapa yang sakit dan mengharapkan pahala, maka Allah akan tetap mencatat baginya pahala atas amalan-amalan yang biasa ia lakukan saat sehat.” (Riyadhus Shalihin).

Sakit Menghapus Dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Mendapatkan rida Allah.

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (٣٥)

Artinya: "Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami kalian akan kembali." (QS. Al-Anbiya: 35)

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar diperoleh melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang rida (menerimanya) maka Allah akan meridhainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At Tirmidzi no. 2396)

Dalam hadits lain Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa keburukan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Di sisi lain sakit yang diderita oleh seorang muslim merupakan wasilah untuk beramal bagi masyarakat atau kaum muslimin yang lain. Islam mengajarkan adab atau anjuran bagi kaum muslimin jika menemukan saudaranya menderita sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; 

(2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; 

(3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; 

(4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); 

(5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan 

(6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

Mengunjungi orang sakit tidak hanya memberikan dukungan emosional dan moral kepada yang sakit, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ؟"

Artinya: “Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman pada hari kiamat: ‘Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku.’ Maka manusia berkata: ‘Wahai Rabb, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb seluruh alam?’ Allah berfirman: ‘Tidakkah engkau tahu, hamba-Ku yang fulan sakit namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, jika engkau menjenguknya maka engkau akan mendapatkan Aku di sisinya?” (HR. Muslim).

Dari hadits ini, jelas bahwa menjenguk orang sakit bukan hanya bentuk empati sosial, tetapi juga merupakan ibadah yang membawa manusia kepada kedekatan dengan Allah ta’ala.

Sakitnya seseorang atau sekelompok orang dari kalangan kaum muslimin juga bisa menjadi pembuka jalan untuk datangnya amal jariyah bagi pribadi muslim yang membatu mencari solusi atas kondisi tersebut. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh cendekiawan muslim di masa lalu, seperti al-Biruni, Ibnu Sina dan sebagainya, beliau mendedikasikan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Beliau yang menemukan berbagai obat atau metode pengobatan  yang dapat digunakan ummat manusia hingga hari ini.

Ibnu Sina atau Avicenna, menulis buku terkenal The Canon of Medicine. Ini merupakan buku teks standar yang diajarkan di berbagai universitas di seluruh dunia hingga abad ke-18. Melalui buku tersebut, Ibnu Sina memperkenalkan; sifat menular dari penyakit menular; penggunaan karantina untuk mencegah penyebaran infeksi; kondisi neuropsikiatri seperti epilepsy, stroke, dan dementia; gejala dan komplikasi diabetes; dan penggunaan uji klinis dalam obat eksperimental.

Para cendekiawan muslim tersebut telah menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada penyakit yang Allah telah ciptakan, kecuali bahwa Dia juga telah menciptakan pengobatannya.” (HR al-Bukhari).

Sakitnya seseorang atau sekelompok orang juga bisa menjadi ladang pahala bagi para pemimpin ummat, jika mereka memberikan pelayanan terbaik bagi ummat. Memberi solusi atas permasalahan orang – orang yang dipimpinnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam,


الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam/pemimpin adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinya / rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

 

Khatimah

Sakit bukan azab. Sebaliknya, hikmah sakit menurut Islam menunjukkan bahwa ujian ini adalah bentuk cinta dan perhatian dari Allah. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” QS. Al-Baqarah: 216

Karena itu, mari kita hadapi sakit dengan sabar dan tawakal. Semoga ujian ini menghapus dosa, menguatkan iman, dan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik. Aamiin.

Posting Komentar untuk "LADANG PAHALA"