Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda, Islam & Kaum Muslimin

 Oleh : Weta Nur Rohmah*

“Kita datang ke tempat ini, bukan untuk kembali pulang. Namun, kedatangan kita ke tempat ini demi untuk meraih dua kemenangan. Hidup penuh kemuliaan atau mati dalam kesyahidan.

Kini, lautan ada di belakang kalian, sedangkan musuh ada di hadapan kalian. Tidak ada yang tertinggal pada diri kalian kecuali kebenaran dan kesabaran.”

Ya, demikianlah jargon Thariq bin Ziyad mencambuk semangat para pasukannya untuk terus berjuang menaklukkan Andalusia. Pada saat Thariq mendaratkan pasukannya, beliau langsung memerintahkan awak kapalnya untuk segera membakar kapal-kapal yang mereka tumpangi, hingga dipastikan mereka tidak mungkin pulang kembali. Pantang pulang sebelum meraih kemenangan. Entah hidup penuh kemuliaan ataupun mati dalam kesyahidan.

Sebuah visi yang jelas melatarbelakangi semangat juang seorang pemuda pejuang Islam hari itu. Pemuda yang benar-benar memahami hanya kepada siapa seharusnya loyalitas itu diberikan. Hanya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Bukan kepada selainnya. . “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Terj. QS. Al An’am: 162).

Konsep ini seharusnya terpatri kuat dalam diri seorang pemuda, bahwasanya hidup dan mati kita, perjuangan kita, segala amal ibadah kita hanyalah kita persembahkan demi mengejar ridha Allah semata. Bahkan jika sekalipun kita harus mempertaruhkan nyawa, pastikan nyawa kita melayang dalam rangka perjuangan di jalan-Nya. Sebagaimana cita-cita para sahabat Nabi setiap kali berangkat ke medan perang, sama sekali tidak ada perasaan gentar atau takut kehilangan nyawanya. Karena imanlah yang bekerja menjadi faktor pendorongnya.

Jelas berbeda dengan para pemuda yang mempertaruhkan nyawanya disebabkan dorongan amarah karena kecewa pada kekalahan kelompoknya. Semua akan menjadi perjuangan yang sia-sia, karena bukan ditujukan untuk Allah dan Rasul-Nya. Karena satu-satunya perjuangan yang layak untuk kita pertaruhkan nyawa atasnya hanyalah perjuangan demi kemuliaan agama-Nya.

Dikisahkan pada masa Rasulullah, beliaupun mencela orang-orang yang masih menonjolkan kelompoknya atau berjuang hanya untuk kepentingan kelompoknya. Bahkan Rasulullah marah ketika ada sahabatnya (Abu Dzar) yang mencela sahabat lainnya yakni Bilal bin Rabah karena ras atau warna kulitnya.

Apalagi hingga terjadi pertumpahan darah, karena pertumpahan darah yang bukan dilandasi karena Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah dosa besar.

“Barangsiapa yang menumpahkan darah orang beriman dengan sengaja (tanpa hak) maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal di dalamnya, mendapatkan murka Allah dan laknat Allah atasnya dan Allah janjikan baginya azab yang pedih.” (Terj. QS. An Nisa : 93)

“Orang beriman adalah orang yang tidak menyembah kepada selain Allah. Dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan hak dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan itu, maka ia berdosa, Allah akan lipat gandakan azabnya di hari kiamat dan ia kekal di sana dalam keadaan hina.” (Ter. QS. Al Furqon: 68-69)

Dan banyak lagi terdapat pada ayat-ayat lainnya, yang menunjukkan besarnya dosa atas nyawa yang melayang sia-sia.

Masalah pertumpahan darah adalah masalah antar sesama yang kelak akan diselesaikan pertama kali di hari perhitungan. “Perkara yang pertama kali akan diperhitungkan antara sesama manusia pada hari kiamat nanti adalah dalam masalah darah.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hilangnya nyawa manusia tanpa hak juga merupakan perkara besar bahkan diumpamakan lebih besar dari hilangnya dunia. Dari al Barra’ bin Azib radhiallahu ‘anhu, Nabi sholallahu alahi wasallam bersabda, “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An Nasai, Tirmidzi)

Wahai pemuda, kerahkan segenap jiwa ragamu hanya untuk perjuangan di jalan ketaatan. Persembahkan hidup dan matimu hanya untuk Rabbmu semata. Jangan biarkan nyawamu melayang sia-sia.

 

*Penulis Buku “Catatan Iman”, Pustaka Cahaya Peradaban, 2022.

 

Posting Komentar untuk "Pemuda, Islam & Kaum Muslimin"