SETELAH RAMADHAN USAI
Ramadhan telah usai sepekan yang lalu. Melepas Ramadhan bukan berarti melepas semangat ibadah. Justru, ia adalah titik awal untuk membuktikan apakah pelajaran yang di dapat selama sebulan penuh benar-benar meresap ke dalam jiwa. Taqwa bukan sekadar label, melainkan kondisi hati yang senantiasa sadar akan kehadiran Allah ta’ala, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap.
Setelah
Ramadhan, godaan dunia kembali terasa lebih kuat. Di sinilah pentingnya
istighfar, dzikir, doa, dan tilawah – tadabbur Al-Qur’an sebagai benteng
penjaga hati. Dengan istighfar, kita membersihkan noda dosa; dengan dzikir,
kita menghidupkan kesadaran akan Allah; dengan doa, kita menyambungkan hati
kepada Sang Pencipta; dan dengan tilawah, kita meneguhkan petunjuk hidup. Semua
amalan ini adalah cara agar hati tetap lembut, tidak keras, dan selalu terarah
kepada kebaikan.
Ada sebuah qoul ulama yang menyatakan :
مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ اَلْحَسَنَةُ بَعْدَهَا وَمِنْ عُقُوْبَةِ
السَّيِّئَةِ اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
artinya,“Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan
kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah
amalan buruk yang ada sesudahnya.”
Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian
melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas
terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan
suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan
tanda tertolaknya amal yang pertama.
Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan
Ramadlan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima
amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik
setelahnya.
seorang
muslim hendaknya senantiasa mempertahankan (istiqomah) dalam ibadahnya. Sedikit
yang dilakukan secara istiqamah lebih baik daripada banyak yang tidak
diistiqamahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Dari Aisyah Radhiyallahu anha dia berkata, Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah
amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.’” (HR. Bukhari no.
6465)
Banyak amal ibadah telah dilaksanakan di Bulan Ramadhan, dan tentu
saja semua amal ibadah wajib, seperti : Shalat lima waktu, thalabul ilmi, amar
ma’ruf nahi mungkar ataupun kewajiban – kewajiban lainnya tetap harus
dilaksanakan di luar Bulan Ramadhan.
Kebiasaan di
bulan Ramadhan mendatangi majelis-majelis ilmu hendaknya tetap dilanjutkan.
Selain semua ibadah dan mu’amalat harus dengan ilmu yang benar, juga dengan
ilmu, manusia bisa mencapai peradaban yang tinggi. Tanpa ilmu, ibadah bisa
kehilangan arah dan makna.
Maka sungguh
benar Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang telah
mewajibkan amal menuntut ilmu bagi setiap muslim sebagaiman sabda beliau yang
artinya,"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap
muslim" (HR.
Ibnu Majah no. 224). Sementara di hadits lain Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda yang artinya,“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah
akan memudahkan baginya jalan menuju surga.“(HR. Muslim)
Setelah menunaikan kewajibannya, seorang muslim dapat terus
bertaqarub ilallah dengan menjalankan perbuatan sunnah. Jika di Bulan Ramadhan
ada kewajiban berpuasa, maka di luar Ramadhan Islam memberikan kesempatan untuk
meneruskan dan melestarikan ibadah puasa sunah. Yang utama tentu saja Puasa 6
hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Rasul Shalallahu
Alaihi wa Sallam yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan
kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal, maka ia seperti
puasa sepanjang tahun” (HR Muslim).
Di samping itu juga ada puasa – puasa sunnah lainnya, seperti
Senin - Kamis, puasa sunnah tiga hari (al-ayyam al-bidh) pada tanggal 13, 14
dan 15 setiap bulan, dan beberapa puasa sunnah yang lain.
Syi’ar yang identik dengan bulan Ramadhan adalah shalat berjama’ah di
masjid, baik shalat wajib lima waktu ataupun dengan tarawih. Marilah amal ini
tetap dihidupkan di luar Bulan Ramadhan karena shalat jama’ah adalah gambaran
visi hidup, simbol persatuan dan kepemimpinan ummat. Terlebih shalat jama’ah
jauh lebih utama dari shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ
الْجَمَاعَة أفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat jama’ah lebih utama dari
shalat sendirian sebanyak 27 derajat.”( HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)
Selama Ramadhan kaum muslimin
bersemangat menjalanlan shalat malam dalam bentuk shalat tarawih dan witir,
maka di luar Ramadhan hendaknya kebiasaan shalat malam tetap dipertahakan,
walau dengan takaran yang lebih ringan, namun yang penting istiqomah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan melakukan shalat malam sepanjang
tahun, tidak hanya pada bulan Ramadhan.
Beliau bersabda
yang artinya: “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam,
kemudian ia shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya menolak ia
percikkah air ke wajahnya, dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun
malam, kemudian ia shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya menolak ia
percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud).
Khatimah
Istiqamah
yang sedikitpun adalah perkara yang berat jika menjalankan sendiri-sendiri.
Karena itulah kita paham pentingnya hidup bersama dan berjama’ah, Allah Ta’ala
berfirman dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 103:
وَٱعْتَصِمُوا۟
بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ
عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم
بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ
فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk”.
Tidak ada seorang pun yang
mampu merawat keislamannya secara mandiri tanpa dukungan lingkungan, majelis
ilmu, shalat berjama’ah, dan kepemimpinan yang menuntun. Suasana kebersamaan di
bulan Ramadhan adalah contoh nyata bagaimana umat Islam dapat saling menguatkan
dalam iman, amal, dan ukhuwah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak membiarkan umatnya kalah dalam mempertahankan nilai
keislaman dan tersesat dari arus keagungan Islam. Sehingga meskipun dalam
perjalanan dan hanya berjumlah tiga orang tetap wajib berjama’ah, sebagaimana
dalam hadits yang masyhur:
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ
فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ
Jika tiga
orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah
seorang dari mereka sebagai pemimpin. (HR Abu
Dawud).
Pesan inti dari hadits ini
adalah ummat Islam
hendaknya tetap bersatu dan saling menasihati dalam satu kepemimpinan. Persatuan
yang dibingkai dengan nasihat, yaitu amar makruf nahi munkar serta pelaksanaan
aqidah dan hukum Islam adalah cara terbaik menjaga nilai-nilai keislaman.
Semoga ummat Islam diberi kemudahan untuk berada dalam satu ikatan kepemimpinan
dan ukhuwah islamiyyah.

Posting Komentar untuk "SETELAH RAMADHAN USAI"