JEBAKAN KENIKMATAN
Istidraj secara
bahasa berasal dari kata daraja, yang berarti ‘bertahap’
atau ‘berangsur-angsur’. Adapun istidraj juga dapat bermakna sebagai
sebuah ‘ujian’ yang diberikan Allah ta’ala
secara berangsur-angsur kepada hamba-Nya. Ujian itu bisa berupa jabatan atau
harta yang melimpah yang diberikan Allah terus-menerus meskipun seseorang itu
jauh dari jalan kebenaran dan akhirnya akan mengantarkannya pada malapetaka
yang lebih besar.
Landasan utama
mengenai fenomena ini terdapat dalam hadits bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا
يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Apabila engkau melihat Allah memberikan nikmat dunia kepada
hamba-Nya yang selalu bermaksiat sesuai dengan keinginannya, maka sesungguhnya
itu adalah Istidraj.”
Setelah itu,
Rasulullah Shalallahu Alaihi a Sallam membacakan
firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 44:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ
شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا
هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
“Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk
mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka
terdiam putus asa.”
Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan,“Ketika mereka
meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan
peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk
istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya.
Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari
segala kebaikan.”
Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa banyak orang yang terpedaya dengan nikmat yang
mereka terima. Mereka menyangka bahwa kelapangan rezeki adalah bukti kecintaan
Allah kepada mereka dan jaminan bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan
yang lebih baik lagi. Anggapan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata karena
Allah telah membantah logika tersebut dalam Surah Al-Fajr ayat 15-17:
“Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan
memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.” Sementara
itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku
telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak
yatim”
Melalui ayat
ini, kita dapat memahami bahwa kelapangan rezeki bukanlah bentuk pemuliaan, dan
kesempitan rezeki bukanlah bentuk penghinaan. Sebagaimana disebutkan dalam
Jami’ At-Tirmidzi, Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا
يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa pun, baik yang
dicintai maupun tidak, namun iman hanya diberikan kepada mereka yang
dicintai-Nya.”
Banyak orang
yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka
dapatkan adalah anugerah yang memuliakan. Padahal, sebenarnya kenikmatan
tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj dapat membuat
manusia lupa kepada Allah ta’ala dan merasa
bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi.
Istidraj
seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran
yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik
kenikmatan yang mereka rasakan. Jika seseorang terjebak
dalam Istidraj. maka ia akan merasa senang dan nyaman dengan
kenikmatan dunia yang diberikan oleh Allah ta’ala, meskipun ia
jarang atau bahkan tidak pernah beribadah. Hal ini dapat membuat seseorang
semakin jauh dari Allah ta’ala dan semakin
gemar dalam berbuat maksiat.
Para Salaf mengingatkan adanya tiga jebakan yang sering tidak
disadari: Pertama, banyak
yang di-istidraj dengan nikmat tanpa sadar. Kedua, banyak
yang terpedaya karena Allah menutupi aibnya tanpa sadar. Ketiga, banyak
yang terfitnah oleh pujian manusia tanpa sadar.
Jika
seseorang terjebak dalam Istidraj, maka ia akan merasa senang, nyaman, merasa
hidupnya lancar-lancar saja meskipun ia jarang atau bahkan tidak pernah
beribadah. Hal ini dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah ta’ala dan semakin gemar dalam berbuat maksiat. Biasanya istidraj
diberikan kepada orang yang telah mati hatinya. Ia adalah orang yang merasa
tidak sedih atas ketaatan yang ditinggalkan dan tidak menyesal dengan maksiat
yang dikerjakan.
Cara
membedakan suatu kesenangan merupakan istidraj
atau bukan adalah dengan ketakwaan. Istidraj dapat membuat seseorang lupa akan
hakikat hidupnya dan tidak menyadari akibatnya. Hingga pada saatnya Allah akan
mencabut semua kesenangan sampai mereka termangu dalam penyesalan yang
terlambat.
Agar kita tidak
terjebak dalam kesenagan semu atau istidraj, ada beberapa cara menghindari
istidraj :
1.
Selalu bersyukur
kepada Allah ta’ala atas segala nikmat
yang diberikan-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi,
2.
Selalu beribadah dan
menjalankan perintah dan larangan Allah ta’ala dengan ikhlas dan konsisten,
3.
Selalu bertaubat dan
memohon ampun kepada Allah ta’ala atas segala
dosa dan kesalahan yang telah dilakukan,
4.
Selalu memperbaiki
diri dan meninggalkan maksiat dan keburukan, Selalu berdoa dan memohon
perlindungan kepada Allah ta’ala dari godaan
syaitan dan tipu daya istidraj,
5.
Selalu mengingat mati
dan akhirat serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati,
6.
Selalu berbuat baik
dan bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk lainnya,
7.
Selalu bersikap rendah
hati dan tidak sombong atau ujub atas nikmat yang diperoleh,
8.
Selalu mencari ilmu
dan menambah wawasan tentang agama Islam,
9.
Selalu bergaul dengan
orang-orang yang shalih dan shalihah yang dapat memberikan nasehat dan motivasi
10.
Sedekah atau infak
kepada yang membutuhkan sebagai bentuk syukur atas harta yang telah Allah
berikan
Khatimah
Istidraj merupakan bentuk tipu daya
dari Allah ta’ala yang diberikan kepada seseorang yang sering melakukan maksiat dan jarang
beribadah, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan. Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan di kalangan awam:
mengapa orang yang membangkang justru hidupnya terlihat lebih nyaman?
Untuk menyikapi hal
ini, kita harus sangat berhati-hati dan jangan terburu-buru merasa iri atau
menganggap Allah tidak adil, karena apa yang dialami orang tersebut bukanlah
sebuah kemuliaan, melainkan sebuah jebakan halus yang mematikan.
Seorang muslim hendaknya
selalu waspada dan berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia. Kenikmatan yang
Allah berikan kepada hamba-Nya harus didasari dengan keimanan yang kuat. Selalu
bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan dan menjauhi semua
hal yang mengandung maksiat.

Posting Komentar untuk "JEBAKAN KENIKMATAN"