Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

JEBAKAN KENIKMATAN

Ada kalanya terlihat seseorang yang sering melakukan maksiat dan jarang beribadah, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan. Fenomena ini sering kali menyebabkan rasa iri di sebagian kalangan awam. Sungguh untuk menyikapi hal ini, harus sangat berhati-hati dan jangan terburu-buru merasa iri atau menganggap Allah tidak adil karena bisa jadi fakta tersebut termasuk kondisi yang disebut istidraj.

Istidraj secara bahasa berasal dari kata daraja, yang berarti ‘bertahap’ atau ‘berangsur-angsur’. Adapun istidraj juga dapat bermakna sebagai sebuah ‘ujian’ yang diberikan Allah ta’ala secara berangsur-angsur kepada hamba-Nya. Ujian itu bisa berupa jabatan atau harta yang melimpah yang diberikan Allah terus-menerus meskipun seseorang itu jauh dari jalan kebenaran dan akhirnya akan mengantarkannya pada malapetaka yang lebih besar.

Landasan utama mengenai fenomena ini terdapat dalam hadits bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila engkau melihat Allah memberikan nikmat dunia kepada hamba-Nya yang selalu bermaksiat sesuai dengan keinginannya, maka sesungguhnya itu adalah Istidraj.

Setelah itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi a Sallam membacakan firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan,“Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa banyak orang yang terpedaya dengan nikmat yang mereka terima. Mereka menyangka bahwa kelapangan rezeki adalah bukti kecintaan Allah kepada mereka dan jaminan bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Anggapan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata karena Allah telah membantah logika tersebut dalam Surah Al-Fajr ayat 15-17:

Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.” Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim

Melalui ayat ini, kita dapat memahami bahwa kelapangan rezeki bukanlah bentuk pemuliaan, dan kesempitan rezeki bukanlah bentuk penghinaan. Sebagaimana disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi, Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

 إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa pun, baik yang dicintai maupun tidak, namun iman hanya diberikan kepada mereka yang dicintai-Nya.

Banyak orang yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan adalah anugerah yang memuliakan. Padahal, sebenarnya kenikmatan tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj dapat membuat manusia lupa kepada Allah ta’ala dan merasa bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi.

Istidraj seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik kenikmatan yang mereka rasakan. Jika seseorang terjebak dalam Istidraj. maka ia akan merasa senang dan nyaman dengan kenikmatan dunia yang diberikan oleh Allah ta’ala, meskipun ia jarang atau bahkan tidak pernah beribadah. Hal ini dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah ta’ala dan semakin gemar dalam berbuat maksiat.

Para Salaf mengingatkan adanya tiga jebakan yang sering tidak disadari: Pertama, banyak yang di-istidraj dengan nikmat tanpa sadar. Kedua, banyak yang terpedaya karena Allah menutupi aibnya tanpa sadar. Ketiga, banyak yang terfitnah oleh pujian manusia tanpa sadar.

Jika seseorang terjebak dalam Istidraj, maka ia akan merasa senang, nyaman, merasa hidupnya lancar-lancar saja meskipun ia jarang atau bahkan tidak pernah beribadah. Hal ini dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah ta’ala dan semakin gemar dalam berbuat maksiat. Biasanya istidraj diberikan kepada orang yang telah mati hatinya. Ia adalah orang yang merasa tidak sedih atas ketaatan yang ditinggalkan dan tidak menyesal dengan maksiat yang dikerjakan.

Cara membedakan suatu kesenangan merupakan istidraj atau bukan adalah dengan ketakwaan. Istidraj dapat membuat seseorang lupa akan hakikat hidupnya dan tidak menyadari akibatnya. Hingga pada saatnya Allah akan mencabut semua kesenangan sampai mereka termangu dalam penyesalan yang terlambat.

Agar kita tidak terjebak dalam kesenagan semu atau istidraj, ada beberapa cara menghindari istidraj : 

1.    Selalu bersyukur kepada Allah ta’ala atas segala nikmat yang diberikan-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, 

2.    Selalu beribadah dan menjalankan perintah dan larangan Allah ta’ala dengan ikhlas dan konsisten,

3.    Selalu bertaubat dan memohon ampun kepada Allah ta’ala atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, 

4.    Selalu memperbaiki diri dan meninggalkan maksiat dan keburukan, Selalu berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari godaan syaitan dan tipu daya istidraj,

5.    Selalu mengingat mati dan akhirat serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, 

6.    Selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk lainnya, 

7.    Selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong atau ujub atas nikmat yang diperoleh,

8.    Selalu mencari ilmu dan menambah wawasan tentang agama Islam, 

9.    Selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih dan shalihah yang dapat memberikan nasehat dan motivasi

10.                        Sedekah atau infak kepada yang membutuhkan sebagai bentuk syukur atas harta yang telah Allah berikan 

 

Khatimah

Istidraj merupakan bentuk tipu daya dari Allah ta’ala yang diberikan kepada seseorang yang sering melakukan maksiat dan jarang beribadah, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan. Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan di kalangan awam: mengapa orang yang membangkang justru hidupnya terlihat lebih nyaman?

Untuk menyikapi hal ini, kita harus sangat berhati-hati dan jangan terburu-buru merasa iri atau menganggap Allah tidak adil, karena apa yang dialami orang tersebut bukanlah sebuah kemuliaan, melainkan sebuah jebakan halus yang mematikan.

Seorang muslim hendaknya selalu waspada dan berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia. Kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya harus didasari dengan keimanan yang kuat. Selalu bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan dan menjauhi semua hal yang mengandung maksiat.

Wallahu a’lam bi ashowab

Posting Komentar untuk "JEBAKAN KENIKMATAN"