Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akhlaqul Karimah

Akhlaq adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam Islam. Akhlaq adalah bagian dari kehidupan seorang Muslim dalam keseharian mereka. Setiap Muslim harus memiliki akhlaq yang baik dan harus berhias dengannya. Sebaliknya seorang Muslim harus meninggalkan akhlaq yang jelek sejauh-jauhnya. Seseorang yang memiliki akhlaq baik pertanda adanya kebaikan baginya di Dunia dan Akhirat, begitu juga sebaliknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad)

Akhlaq menurut bahasa diartikan sebagai tabiat, karakter, wibawa, dan kualitas agama. Sedangkan di dalam kamus al-Muhith dinyatakan : Akhlaq artinya sijjiyah (karakter), tabiat, wibawa, dan kualitas agama.

Maka pengertian akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dengan kata lain akhlaq adalah perbuatan “otomatis”, aksi responsif dari seseorang tanpa banyak berpikir. Ibarat seorang sopir yang sehari hari mengendarai mobil, dia bersikap responsif terhadap kondisi yang ditemuinya. Tidak perlu berpikir untuk menentukan langkah antara gas, rem dan kopling. Semuanya berjalan natural tanpa banyak berpikir karena sudah terbiasa.

Begitupun dengan akhlaq, seseorang merespon secara natural segala sesuatu yang ditemuinya. Ada orang yang ringan tangan membantu tetangga, teman dan kerabat tanpa perlu diminta. Ada pula individu yang ringan memberi komentar buruk atas capaian orang lain dan sebaliknya memberi nilai tinggi atas perbuatannya sendiri. Begitulah gambaran akhlaq, bila sifat itu memunculkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan syariat maka sifat itu disebut akhlaq  yang baik atau akhlaqul karimah, dan bila yang muncul dari sifat itu perbuatan-perbuatan buruk maka disebut akhlak yang buruk atau akhlaqul mazhmumah.

Realitas di masyarakat tidak sedikit kita jumpai, seseorang yang baik dalam ibadah mahdoh seperti salat, rajin berpuasa, namun ia lupa atau lalai dari menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia. Kadang tidak bertegur sapa dengan saudara semuslimnya saat bertemu, mudah berbicara kotor, hobi membicarakan (kejelekan) saudara semuslimnya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut, dan akhlaq-akhlaq tidak terpuji lainnya yang terkadang dijumpai dari seorang pribadi muslim yang zahirnya adalah seorang yang saleh.

Sungguh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengingatkan berbahayanya sikap demikian dalam berbagai hadits beliau, diantaranya :

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang perempuan yang rajin salat malam, rajin sedekah, dan rajin puasa, namun dia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Nabi pun berkomentar, “Sungguh tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Ada perempuan yang dikenal hanya melaksanakan salat lima waktu saja (jarang melaksanakan salat sunah) dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju, namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan :

“Tahukah kamu, siapakah orang bangkrut itu?” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) salat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka, orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” (HR. Muslim)

Sungguh Allah ta’ala tidaklah memerintahkan kita untuk beribadah, kecuali di baliknya terdapat hikmah yang agung dan besar yang dapat kita ambil darinya. Dan di antara hikmah terbesar yang akan didapatkan seorang hamba tatkala memperbanyak ibadah adalah agar dirinya menjadi sosok muslim yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang baik kepada siapa pun.

Dalam hal salat misalnya, Allah ta’ala pernah berfirman,

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ

“Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al-Ankabut: 45)

Pada ibadah haji, Allah ta’ala juga mewanti-wanti agar ibadah haji yang dilakukan seseorang jauh dari perilaku buruk, perangai yang tidak terpuji, dan akhlak yang tidak baik kepada orang lain. Allah ta’ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan perolehan keutamaan dihapusnya dosa bagi mereka yang berhaji dengan tidak adanya akhlak terpuji yang dilanggar oleh mereka. Beliau bersabda, “Barangsiapa menunaikan ibadah haji, lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor, serta tidak berbuat kefasikan, maka ia pulang dalam keadaan suci seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 1350)

Dalam perkara ibadah puasa Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR. Bukhari no. 1903)

Maka hendaknya ibadah hablum min Allah seseorang terkoneksi dengan ibadah hablum min an naas. Ibadah ritual memberi dampak pada interaksi sosial, sebagaimana Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan teladan pada ummatnya tentang amal – amal ibadah mahdoh yang diiringi dengan ibadah ghairu mahdoh.

 

Khatimah

Akhlaq Islam adalah budi pekerti, sikap, dan perilaku mulia yang melekat pada diri seseorang dan diatur oleh ajaran Islam. Ruang lingkup akhlak utama mencakup akhlak kepada Allah ta’ala, kepada sesama manusia, dan kepada lingkungan. Dengan kata lain berakhlaq islami adalah menjalankan tuntunan Allah dan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kehidupan sehari – hari dalam hubungan dengan Allah ta’ala, hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan serta hubungan dengan diri sendiri, yakni memperhatikan kondisi diri dengan adil.

Berakhlaq Islami adalah bagian dari pelaksanaan aqidah dan hukum Islam, dimana hal ini merupakan salah satu kunci surga. Sebagaimana Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau mengatakan: Bertaqwa kepada Allah dan berakhlaklah dengan akhlak yang baik.

Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Akhlaqul Karimah"