Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

AN NAKBAH

 Awal konflik di Palestina dapat ditelusuri dari suatu peristiwa yang dikenal sebagai An Nakbah. Secara bahasa berarti bencana atau malapetaka, disini ia bermakna sama pula di mata warga Palestina lebih tepatnya adalah penggusuran.

Nakbah bermula dari perjanjian bernama deklarasi balfour antara zionis Israel dan pemerintah Inggris pada 2 November 1917. Didalamnya menyatakan Inggris akan membantu pembentukan “rumah bagi orang yahudi di Palestina”. Masalahnya adalah Palestina ini bukanlah sebuah tanah kosong.

Perebutan tanah dan proses pendudukan masyarakat yahudi di Palestina terjadi selama bertahun-tahun dengan bantuan pemerintah Inggris, hal ini semakin masif ketika terjadi peristiwa holocaust. Penggusuran ini bertambah progresif dengan aparat Israel yang menempuh Plan Dalet yang mencakup penghancuran kampung kampung melalui pengeboman, pembakaran serta pengusiran populasi yang menuju ke luar perbatasan.

Pada 14 Mei 1948 negara israel dideklarasikan. Sebuah hari yang menjadi noda hitam bagi warga Palestina. Penguasaan tanah semakin luas hingga Palestina menyisakan wilayah gaza dan tepi barat. Kedua daerah tersebut juga tak luput dari kontrol pemerintah israel. Jalur gaza dikelilingi tembok besar sebagai bentuk isolasi warga gaza dari luar. kemudian tepi barat terus tergeser dengan kehadiran pendatang israel yang kerap membangun permukiman eksklusif di tanah leluhur mereka, 15 Mei diperingati sebagai hari NAKBAH.

Hingga hari ini penjajahan israel terhadap Palestina terus berlanjut. Berbagai kekejaman zionis israel terus saja terjadi. Data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan Palestina dan Bulan Sabit Merah Palestina hingga tanggal 14 Mei 2024 menunjukkan, sedikitnya 35.173 penduduk Gaza tewas akibat serangan militer Israel. Jumlah itu mencakup lebih dari 14.500 anak-anak. Diperkirakan masih ada lebih dari 10.000 orang yang menghilang. Tidak hanya di Gaza, kekerasan aparat keamanan Israel juga telah merenggut nyawa 498 penduduk Palestina di Tepi Barat, termasuk di antaranya adalah 124 anak-anak.

Kondisi ini memantik simpati dari seluruh dunia, bahkan di Amerika Serikat sebagai penyokong utama negara zionis. Sejumlah wisudawan kampus - kampus Amerika Serikat menggelar aksi pro Palestina dengan mengenakan bendera Palestina dan keffiyeh dengan topi dan gaun mereka.

Aksi yang berlangsung saat upacara wisuda pada bulan Mei tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap hampir 35.000 warga Palestina yang terbunuh sejak perang Israel di Gaza dimulai lebih dari tujuh bulan lalu. Sejumlah kampus yang terlibat diantaranya : Universitas Michigan, Universitas Northeastern, University of Illinois Chicago, dan Universitas Indiana (https://international.sindonews.com)

Jika kaum non muslim saja memberikan support bagi perjuangan Palestina, Bagaimanakah dengan kita sebagai saudara seaqidah dengan muslim Palestina ?!

 

Semua Muslim Bersaudara

Sebagai seorang yang beriman kepada Allah ta’ala tentu kejadian yang menimpa masyarakat Palestina tidak bisa untuk tidak kita perhatikan. Sudah sewajarnya bagi kaum muslimin peduli dan bersimpati kepada mereka. Sebab, seseorang yang beriman kepada Allah ta’ala sejatinya telah menjadi saudara dalam iman dan sudah barang tentu kepedulian terhadap sesama saudara itu harus ditampakkan.

Allah ta’ala berfirman di dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya,“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang pakar tafsir abad 14 H menulis dalam kitab tafsirnya bahwa ayat tersebut adalah perjanjian yang ditunaikan Allah di antara orang-orang beriman. Siapapun dia, baik tinggal di belahan timur bumi maupun barat, apabila beriman kepada Allah ta’ala, Malaikat, Kitab-kitab, Nabi dan Rasul-Nya, serta beriman kepada Hari Akhir, maka dia adalah saudara bagi orang beriman yang lainnya. 

Oleh sebab itu, setiap mukmin diharuskan untuk mencintai dan menyayangi mukmin yang lain sebagaimana dia mencintai dan menyayangi dirinya sendiri. Rasulullah saw bersabda yang artinya,“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari)

Pada hadits tersebut, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa keimanan seseorang tidak sempurna jika dia belum mencintai saudaranya. Kesempurnaan iman akan bisa tercapai apabila kita mampu untuk memposisikan saudara seiman seperti diri kita sendiri.

Jika kita menginginkan kebaikan, maka usahakan kebaikan itu juga dirasakan saudara kita. Apabila kita tidak menyukai sebuah keburukan menimpa diri, maka usahakan hal tersebut juga tidak menimpa saudara kita. Seperti itulah makna persaudaraan dalam iman. 

Maka, penderitaan kaum muslimin di Negeri Palestina sejatinya adalah penderitaan kaum muslimin di seluruh dunia. Meski terpisah jarak, akan tetapi keimanan kepada Allah ta’ala menjadikan kita semua satu kesatuan. Luka mereka adalah luka kita, darah mereka adalah darah kita. Jika rasa kepedulian itu tidak muncul dalam hati, maka sudah sepantasnya kita bertanya pada diri sendiri, sudah benarkah keimanan kita kepada Allah ta’ala ? 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang muslim untuk menunjukkan keberpihakannya pada sesama Muslim di Palestina, diantaranya

Pertama, mendoakan perjuangan rakyat Palestina.

Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah senjata canggih yang harus kita gunakan dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan. Doa sering kali digunakan oleh para nabi, khususunya, pada saat-saat yang genting.

Kita bisa belajar dari sejarah Perang Badar. Kala itu jumlah pasukan kaum musyrikin 1000 dengan perlengkapan yang lebih memadai. Sementara jumlah kaum muslimin hanya 319 pasukan. Melihat ketimpangan yang ada, Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam berdoa kepada Allah dengan mengeraskan suaranya, beliau mengangkat kedua tangannya, menghadap ke arah kiblat untuk memohon pertolongan Allah ta’ala.

Oleh karena itu, mari terus panjatkan doa terbaik kita untuk keselamatan dan kemenangan para pejuang Palestina. Kita lakukan qunut nazilah di tiap shalat. Kita gelorakan terus dukungan moral lewat doa-doa yang kita kirimkan untuk mereka.

Kedua, menyebarkan ilmu atau informasi yang sahih tentang Baitul Maqdis. 

Ketiga, berkontribusi untuk membebaskan Baitul Maqdis. Sekecil apa pun kontribusi, mari kita persembahkan untuk perjuangan rakyat Palestina.

Keempat, menginfakkan sebagian harta kita untuk membebaskan Baitul Maqdis serta membantu perjuangan saudara-saudara kita di Palestina yang terjajah.

Kelima, jangan melemahkan perjuangan dan barisan kaum Muslimin dengan saling mengolok dan menghina. Dalam kondisi seperti ini apakah pantas kita masih saling sikut dan sikat karena berbeda dalam memandang faksi-faksi di Palestina.

Keenam, jangan memperkuat musuh dengan membeli produk-produk yang secara langsung atau tidak, terang-terangan atau tidak, membantu musuh dalam melanggengkan penjajahan terhadap Baitul Maqdis. Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya,“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Mereka bertanya: ‘Wahai Rasul, jelas kami paham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim?’ Beliau bersabda: “Pegang tangannya (hentikan ia agar tidak berbuat zalim).” (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam bi ashawab

Posting Komentar untuk "AN NAKBAH"