Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RASUL SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM PENDIDIK TERBAIK

Guru senantiasa digambarkan sebagai orang yang memegang peranan penting. Dalam konteks pendidikan Islam, guru dikenal dengan pendidik yang merupakan terjemahan dari berbagai kata yakni murabbi, mu’allim dan mua’did. Ketiga term itu mempunyai makna yang berbeda, sesuai dengan konteks kalimat, walaupun dalam konteks tertentu mempunyai kesamaan makna.

Kata murabbi misalnya, sering dijumpai dalam kalimat yang orientasinya lebih mengarah kepada pemeliharaan, baik yang bersifat jasmani atau rohani, pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua membesarkan anaknya, mereka tentunya berusaha memberikan pelayanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat dan kepribadian serta akhlak yang terpuji.

Sedangkan untuk istilah mu’allim, pada umumnya dipakai dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan dari seseorang yang tahu kepada seseorang yang tidak tahu. Adapaun istilah muaddib lebih luas dari istilah mua’llim dan lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam.

Guru yang baik menurut Ibnu Sina adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan bermain-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, bersih, suci murni, menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membimbing anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak, tidak keras hati dan senantiasa menghias diri. Selain itu guru juga harus mengutamakan kepentingan umnat daripada kepentingan dirinya sendiri.

Seorang guru yang baik (ideal) menurut al-Ghazali adalah guru yang memiliki sifat-sifat umum yaitu cerdas dan sempurna akalnya, baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, serta dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar atau mendidik dan dapat mengarahkan murid-muridnya dengan baik.

Al-Mawardi, memandang seorang guru yang baik adalah guru yang tawadhu (rendah hati), menjauhi sikap ujub (besar kepala) dan memiliki rasa ikhlas. Selain itu, dalam melaksanakan tugasnya seorang guru harus dilandasi dengan kecintaan terhadap tugasnya sebagai guru, kecintaan ini akan benar-benar tumbuh dan berkembang apabila keagungan, keindahan dan kemuliaan tugas guru itu sendiri benar-benar dapat dihayati.

Nabi Shalallahu Alaihi Sallam Teladan Terbaik

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah sosok mulia yang menjadi teladan umat seluruh alam. Ia merupakan sosok ideal yang harus dicontoh dalam berbagai sisi kehidupan termasuk dalam hal pendidikan. Beliau merupakan sosok yang menterjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman pokok dan pendidikan umat Islam dalam kehidupan di dunia.

Dalam konteks pendidikan Qur’ani, Nabi menjadi figur ideal seorang pendidik yang telah terbukti mampu mengubah prilaku individu-individu, bahkan umat yang terkenal memiliki sifat dan karakter budaya yang keras dan kasar.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Imran : 164)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah melimpahkan kenikmatan kepada kaum mukminin dari bangsa arab, ketika Dia mengutus di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka, dan menyucikan mereka dari kemusyrikan dan akhlak yang rusak, dan mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan mereka dahulu sebelum kedatangan Rasul tersebut benar-benar berada di dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata.

Lantas, bagaimana Rasulullah untuk mendidik para sahabatnya? Dalam artikel NU Online disebutkan Tujuh Metode Rasulullah dalam Mendidik Sahabatnya.

Pertama, metode lingkaran (halaqah). Metode ini memungkinkan para sahabat membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi Rasulullah. Dengan metode ini, maka Rasulullah bisa mengawasi para sahabatnya dengan lebih cermat karena jarak keduanya yang lumayan dekat. Kedekatan jarak pendidik dan anak didik juga membuat hubungan emosi mereka lebih dekat. Metode model ini juga menampilkan bagaimana pendidikan Islam begitu egaliter. 

Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam duduk di tengah kami, agar jarak antara dirinya dengan kami seimbang. Kemudian beliau memberikan isyarat dengan tangannya agar mereka duduk melingkar sehingga wajah mereka tampak oleh beliau,” kata Abu Sa’id al-Khudri dalam hadits riwayat Abi Dawud.

Kedua, metode dialog dan diskusi (al-hiwar wa al-mujadalah). Sesuai riwayat Abu Nuaim al-Asfahani, suatu ketika Rasulullah mendatangi para sahabatnya yang tinggalnya di emperan Masjid Nabawi. Semula Rasulullah bertanya perihal kondisi mereka. Namun kemudian Rasulullah menyampaikan suatu hal, mereka kemudian menjawabnya. Dan begitu seterusnya. Rasulullah dan mereka saling menimpali. Metode pendidikan seperti itu membuat guru dan anak didik menjadi aktif. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuannya saja, tapi juga merangsang dan mendorong agar anak didiknya bisa mengeluarkan pemikiran dan pendapatnya tanpa rasa takut karena mendapatkan kesempatan.

Ketiga, metode ceramah (al-khutbah). Mungkin ini metode yang lazim digunakan Rasulullah. Ketika mendapatkan wahyu, Rasulullah menyampaikannya dengan cara ceramah. Begitu pun ketika memberikan pengajaran dan pendidikan kepada para sahabatnya. Meski demikian, Rasulullah menggunakan beberapa ‘trik’ ketika menyampaikan materi dengan metode ceramah. Seperti memulai ceramah dengan kalimat yang menimbulkan empati, menyampaikan ceramah dengan singkat, padat, dan langsung ke intinya, serta memberikan contoh atau perumpamaan yang menarik dan logis sehingga materinya mudah diterima dan dipahami.

Keempat, metode kisah (al-qishshah). Dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran, Rasulullah juga tidak jarang menyelipkan kisah-kisah yang terkait dengan materinya. Rasulullah sengaja menyertakan kisah atau cerita dalam pengajarannya untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah. 

Kelima, metode penugasan (at-tathbiq). Rasulullah juga kerap kali melakukan penugasan kepada para sahabatnya dalam proses belajar pembelajaran. Para sahabat yang dianggap sudah mahir dalam suatu hal dikirim untuk memberikan pengajaran kepada mereka yang belum tahu. 

Sesuai hadits riwayat Muslim, Anas bin Malik berkata bahwa suatu ketika beberapa orang mendatangi Rasulullah. Mereka meminta Rasulullah untuk mengirimkan orang-orang yang dapat mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada mereka. Maka Rasulullah mengirimkan 70 orang dari kalangan Anshar untuk memberikan pengajaran kepada mereka.

Keenam, metode teladan dan panutan (al-uswah dan al-qudwah). Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat sifat-sifat suri teladan yang baik. Rasulullah pasti menerapkan apa yang disampaikanya dalam laku sehari-hari. Ketika Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk melakukan suatu hal, maka sudah barang pasti beliau juga melakukannya. Begitu pun ketika beliau memerintahkan untuk menjauhi suatu hal.

Maka dengan demikian, Rasulullah mengedepankan metode teladan dalam pengajaran dan pendidikannya. Karena bagaimanapun, metode teladan merupakan metode yang paling efektif dan baik dalam proses pembelajaran. Murid tidak hanya menerima pengetahuan, tapi juga mendapatkan teladan.

Ketujuh, metode perumpamaan (dharb al-amtsal). Biasanya metode perumpamaan digunakan untuk memudahkan menyampaikan materi. Dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan, Rasulullah berharap apa yang disampaikannya bisa diterima dengan baik oleh para pasahabatnya.

Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah menemui para sahabatnya di emperan masjid. Beliau bertanya, siapa diantara sahabatnya itu yang suka pergi ke lembah Batha’ dan al-Aqiq dan membawa pulang dua unta dengan punggung besar. Para sahabat menjawab, mereka suka melakukan itu. “Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid lalu belajar dan membaca dua ayat Kitabullah yang itu lebih baik dari dari pada dua ekor unta,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Nu’aim.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah mengumpamakan kegiatan belajar dengan unta yang gemuk. Melalui perumpamaan itu, Rasulullah mendorong agar para sahabatnya terus semangat dalam menuntut ilmu.

 

Khatimah
Allah
ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab 21)

Ayat yang mulia ini adalah dalil pokok yang paling besar untuk meniru Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Oleh karena itu Allah ta’ala memerintahkan kepada orang-orang agar meniru Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam. Pun dalam urusan mendidik anak – anak kaum muslimin, sungguh Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah contoh terbaik bagi para guru, ustadz maupun orang tua dalam mendidik generasi masa depan. Tidak lah perlu bagi kaum muslimin meniru cara – cara orang – orang di luar islam. Cukuplah Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan kita.

Wallahu a’lam bi ashawab

Posting Komentar untuk "RASUL SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM PENDIDIK TERBAIK"