Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meraih Keberkahan di Bulan Rajab

Alhamdulillah ummat Islam telah memasuki Jumat kedua di Bulan Rajab 1447 H. Dalam perjalanan waktu kalender Hijriah, ada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah dengan keistimewaan tertentu. Salah satunya adalah Bulan Rajab, bulan ke-7 dalam kalender Islam yang termasuk ke dalam Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram/mulia).

Kehadirannya bukan hanya menjadi pergantian waktu, tapi juga penanda dimulainya fase persiapan spiritual menuju bulan-bulan agung berikutnya, yaitu Sya’ban dan Ramadhan. Saat memasuki Bulan Rajab, ada doa yang menjadi pengingat bahwa bulan Rajab merupakan pintu awal menuju bulan-bulan penuh kemuliaan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna, wa ballighnā Ramaḍān.
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”

Lalu bagaimanakah agar dapat memperoleh keberkahan di Bulan Rajab ini ?

Kata Rajab berasal dari kata “tarjib” yang bermakna agung dan mulia. Adapula yang memaknai Bulan Rajab dari kata rajaba–yarjubu yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Adapun menurut Syekh Abdul Qodir al-Jilani dalam kitab Al-Ghuniyah, Rajab terdiri dari tiga huruf, yaitu ra’, jim, dan ba’.

Ra’ adalah rahmatullâh (rahmat Allah),

jim adalah jûdullâh (kemudahan Allah), dan

ba’ adalah birrullâh (kebaikan Allah).

Maksudnya, mulai awal hingga akhir bulan Rajab, Allah ta’ala melimpahkan 3 anugerah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu limpahan rahmat, kemudahan, dan kebaikan dari Allah ta’ala. Ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan dari bulan Rajab.

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab termasuk bulan haram. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.

Kemuliaan Bulan Rajab akan terasa maknanya apabila diisi dengan amal-amal kebaikan. Meski tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan secara spesifik, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh sebagai bentuk pengagungan terhadap bulan mulia ini. Sejumlah amal yang disarankan dilaksanakan di Bulan Rajab antara lain :

Memperbanyak Puasa Sunnah

Terkait kesunahan puasa di bulan Rajab ini terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahih Muslim  yang artinya: “Utsman bin Hakim berkata: Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab, ketika itu kami berada di bulan Rajab. Sa’id menjawab: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah Shalallhu Alaihi wa Sallam berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga beliau berpuasa, dan beliau tidak berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga beliau tidak puasa.”  

Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, hadits di atas tidak menunjukkan larangan khusus atau kesunahan khusus puasa di bulan Rajab. Karena itu, kesunahan puasa di bulan Rajab dilihat dari dua aspek, pertama, hukum asal puasa hukumnya adalah sunah. Kedua, perintah Nabi yang menganjurkan puasa di bulan-bulan mulia, bulan Rajab adalah salah satunya.

Imam ats-Tsauri sebagaimana dikutip Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif menyatakan: Aku amat menyukai amalan puasa di bulan-bulan haram (mulia).  Hal ini telah dipraktikkan oleh sebagian ulama salaf yang berpuasa di setiap bulan yang mulia, seperti Ibnu Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq as-Sabi’i. 

Puasa di Bulan Rajab termasuk amalan sunnah yang dianjurkan, baik puasa Senin-Kamis maupun puasa Ayyamul Bidh dan puasa daud. Beberapa sahabat dikenal memperbanyak puasa di bulan-bulan haram sebagai bentuk pengagungan terhadap waktu yang dimuliakan Allah.

Memperbanyak Taubat dan Istighfar

Bulan Rajab adalah bulan yang tepat untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri. Taubat menjadi pintu awal sebelum memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman yang artinya,”“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

Rajab adalah bulan yang tepat untuk bertobat dari segala maksiat. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaiful menganjurkan umat manusia untuk bertobat di bulan Rajab yang mulia ini. Beliau mengatakan: Putihkanlah lembaran hitammu di bulan Rajab, dengan amal baik yang menyelamatkanmu dari api yang melalap.    

Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Al-Ghuniyah menjelaskan ada tiga syarat agar tobat kita diterima oleh Allah ta’ala. Pertama, menyesali kesalahan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat. Kedua, meninggalkan setiap kesalahan di mana pun dan kapan pun. Ketiga, berjanji untuk tidak mengulang dosa dan kesalahan.

Ketiga syarat tersebut harus kita laksanakan agar tobat kita benar-benar diterima oleh Allah ta’ala. Memperbanyak istighfar di Bulan Rajab menjadi latihan spiritual untuk menundukkan hati dan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah.

Memperbanyak Ibadah Sunnah

Selain puasa dan sedekah, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, shalat malam (tahajud), dzikir dan shalawat kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam. Amalan-amalan ini menjadi bekal ruhani untuk menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang lebih siap dan iman yang lebih kuat.

Khatimah

Bulan Rajab bukan sekedar bulan yang berlalu dalam hitungan kalender. Ia adalah panggilan untuk berhenti sejenak, menata niat, dan memulai langkah kebaikan. Bulan Rajab ibaratnya bulan menanam. Bulan menanam kebiasaan baik yang nantinya akan dipanen saat Bulan Ramadhan, yakni ringan beramal shalih karena telah terbiasa.

Ibarat seorang atlet yang akan berlomba ia mempersiapakan diri sebaik mungkin sebelum pelaksanaan event agar saat kompetisi dapat berlomba dengan optimal. Maka Bulan Rajab dan Sya’ban merupakan fase persiapan sebelum “even resmi” di Bulan Ramadhan. Mari jadikan Bulan Rajab sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amal.

Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Meraih Keberkahan di Bulan Rajab"